Menu MBG Ayam Tepung Jadi Dugaan Sementara Penyebab Keracunannya 143 Siswa SMAN 1 Tukdana Indramayu

143 siswa SMAN 1 Tukdana Indramayu diduga keracunan usai menyantap MBG. Menu ayam tepung yang beraroma tak sedap kini diperiksa.

INDRAMAYUUPDATE – Sebanyak 143 siswa SMAN 1 Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Tim gabungan kini menyelidiki makanan, terutama menu ayam tepung yang disebut sempat mengeluarkan aroma tak sedap.

Pantauan di lokasi, Selasa (6/10/2026), tim gabungan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu, BPOM, kepolisian, kejaksaan, dan TNI melakukan pemeriksaan terkait insiden tersebut.

Petugas lebih dulu mendatangi SMAN 1 Tukdana untuk meminta keterangan dari pihak sekolah. Pemeriksaan kemudian berlanjut ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala II, tempat makanan MBG untuk para siswa diproduksi.

Petugas Surveilans Dinkes Indramayu, Yandi, mengatakan dugaan sementara mengarah pada menu ayam tepung. Dugaan tersebut muncul berdasarkan hasil klarifikasi dengan sejumlah pihak serta keterangan mengenai kondisi makanan sebelum disantap.

“Dugaan sementara memang dari menu ayam. Itu dimasak ayam tepung,” kata Yandi saat ditemui di SPPG Kerticala II, Selasa (6/10/2026).

Yandi menyebut makanan tersebut sempat dilaporkan mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Beberapa jam setelah menyantap makanan, sejumlah siswa kemudian mengalami keluhan seperti pusing, sakit perut, mual hingga muntah.

Berdasarkan keterangan dari pihak SPPG, proses memasak menu tersebut selesai sekitar pukul 09.00 WIB. Makanan kemudian mulai dikirim menuju sekolah sekitar pukul 10.15 WIB.

“Kronologinya seperti itu, jadi selesai masak itu pukul 09.00 WIB, kemudian dikirim ke sekolah pukul 10.15 WIB,” ujarnya.

Meski demikian, Yandi menegaskan dugaan terhadap menu ayam tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab pasti keracunan. Kepastian penyebab masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Sampel Makanan hingga Air Diuji

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Indramayu, Sri Anugraeni Supardi, mengatakan investigasi dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan tidak hanya menyasar makanan yang dikonsumsi siswa, tetapi juga kondisi dapur SPPG.

Tim mengambil sejumlah sampel untuk diperiksa di laboratorium. Sampel tersebut meliputi sisa makanan MBG yang dikonsumsi siswa, makanan MBG utuh yang masih tersimpan di SPPG, hingga air yang digunakan di dapur.

Sampel akan diperiksa melalui laboratorium Dinkes Indramayu dan BPOM. Pengujian dilakukan untuk mencocokkan hasil dan mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.

“Sampel sudah kami bawa ke laboratorium dan insyaallah dari BPOM juga akan membantu untuk pemeriksaan sampel. Nanti hasilnya akan kita cocokkan,” kata Sri.

Sri belum dapat memastikan kapan hasil pemeriksaan laboratorium akan keluar. Namun, hasil tersebut nantinya akan menjadi dasar pemerintah untuk menentukan langkah selanjutnya.

SPPG Disebut Penuhi Standar

Dalam pemeriksaan di SPPG Kerticala II, petugas juga mengecek kondisi lingkungan serta sarana dan prasarana dapur.

Sri mengatakan secara administratif, SPPG tersebut telah memenuhi sejumlah persyaratan yang ditetapkan pemerintah. Skor Inspeksi Kesehatan Lingkungan (IKL) di dapur itu disebut telah mencapai standar minimal 80.

Pemeriksaan awal untuk Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) juga dinilai memenuhi syarat. Selain itu, para pekerja dapur disebut telah memiliki sertifikat keamanan pangan.

“Jadi artinya secara administratif SPPG ini memenuhi syarat,” ujarnya.

Meski secara administratif memenuhi persyaratan, investigasi tetap dilakukan untuk mengetahui bagaimana insiden yang menyebabkan 143 siswa mengalami keluhan kesehatan tersebut bisa terjadi.

Hasil pemeriksaan nantinya akan dilaporkan kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai bahan evaluasi dan tindak lanjut.

Aktivitas Dapur Dihentikan Sementara

Pasca-insiden tersebut, aktivitas memasak di SPPG Kerticala II dihentikan sementara. Saat tim melakukan pemeriksaan, tidak terlihat adanya aktivitas memasak di dapur tersebut.

Sri mengatakan keputusan mengenai sanksi atau status SPPG selanjutnya merupakan kewenangan BGN.

“Kalau sanksi suspend itu kewenangannya ada di BGN, mungkin nanti tindak lanjutnya dari BGN. Tapi kalau untuk hari ini, memang tidak beroperasi, tidak ada aktivitas memasak di dapur,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan Mitra SPPG Kerticala II, Hakim, menyatakan pihaknya siap bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa para siswa.

Hakim mengatakan pihaknya turut memfasilitasi proses pemeriksaan yang dilakukan berbagai instansi pada hari ini. Pihaknya juga ikut mendampingi rombongan untuk melihat kondisi para siswa yang sebelumnya mengalami keluhan setelah menyantap MBG.

“Insya Allah kami bertanggung jawab atas itu, termasuk biaya pengobatan para siswa,” kata Hakim.

Exit mobile version