INDRAMAYUUPDATE – Jembatan Cimanuk yang membentang di atas Sungai Cimanuk, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, bukan sekadar penghubung dua wilayah. Jembatan peninggalan era kolonial Belanda ini menyimpan sejarah panjang dan telah tiga kali berganti nama sebelum dikenal seperti sekarang.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Indramayu, Dedy S Musashi, mengatakan jembatan tersebut mulai dibangun sekitar awal 1900-an untuk menghubungkan dua kawasan Kota Indramayu yang dipisahkan Sungai Cimanuk.
“Awalnya namanya Kreteg Gantung, kemudian berubah menjadi Kreteg Sorog, dan sekarang dikenal sebagai Jembatan Cimanuk,” kata Dedy saat ditemui, Minggu (28/6/2026).
Menurut Dedy, berdasarkan catatan Residen Cirebon tahun 1873, kawasan timur Sungai Cimanuk saat itu menjadi pusat pemerintahan bupati dan asisten residen. Sementara wilayah barat sungai merupakan kawasan administrasi pemerintah kolonial Belanda.
Sebelum jembatan dibangun, masyarakat mengandalkan perahu atau jukung untuk menyeberangi Sungai Cimanuk. Demi memperlancar mobilitas warga dan aktivitas pemerintahan, pemerintah Hindia Belanda kemudian membangun sebuah jembatan.
Arsip foto tahun 1927 menunjukkan konstruksi awal jembatan memiliki lebar yang lebih sempit dibandingkan sekarang. Bangunannya menggunakan rangka baja dengan dua menara penyangga kabel utama sehingga masyarakat kala itu menyebutnya sebagai Kreteg Gantung.
“Karena bentuknya menggantung di atas sungai, masyarakat menyebutnya Kreteg Gantung,” ujar Dedy.
Seiring berkembangnya Kota Indramayu, kawasan di sekitar jembatan mulai dipenuhi sekolah, perkantoran hingga permukiman warga Belanda.
Memasuki era 1960-an, konstruksi jembatan dirombak. Model jembatan gantung diganti dengan tiang penyangga yang lebih kokoh disertai lantai papan berjajar. Sejak saat itu namanya berubah menjadi Kreteg Sorog.
“Nama Sorog berasal dari kata sorogan dalam bahasa Indramayu yang berarti penyangga,” jelas Dedy.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat kemudian lebih mengenalnya sebagai Jembatan Cimanuk, merujuk pada sungai yang dilintasinya.
“Selain menjadi sarana penyeberangan, jembatan ini juga menjadi ikon Kabupaten Indramayu,” katanya.
Nilai sejarah jembatan itu masih diingat warga. Salah satunya Andrian (42), warga Kecamatan Arahan. Ia mengaku mengetahui kisah Jembatan Cimanuk dari cerita orang tuanya.
“Kalau kata orang tua dulu sebelum ada jembatan, warga menyeberang pakai perahu. Bentuk jembatannya juga menggantung, makanya disebut Kreteg Gantung,” ujar Andrian.
Kini, Jembatan Cimanuk masih berdiri kokoh di atas Sungai Cimanuk. Lebih dari sekadar infrastruktur, jembatan tersebut menjadi saksi perjalanan sejarah sekaligus salah satu ikon yang melekat dengan wajah Kabupaten Indramayu.
