INDRAMAYUUPDATE – Sebanyak 143 siswa SMA Negeri 1 Tukdana, Kabupaten Indramayu, mengalami gejala mual dan pusing setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Pihak sekolah mengungkap sejumlah guru sempat mencurigai aroma tak sedap dari lauk ayam sebelum makanan dibagikan.
Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (5/10/2026). Saat ditemui di lingkungan sekolah, Selasa (6/10), Humas SMAN 1 Tukdana Warsa menceritakan kembali kronologi kejadian tersebut.
Menurut Warsa, pembagian makanan MBG berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB, setelah jam istirahat. Saat itu, sejumlah guru mencium aroma yang dianggap tidak biasa dari lauk ayam.
“Sebenarnya kemarin itu dari guru sudah mencurigai menu ayam karena berbau tidak sedap. Pihak sekolah langsung melaporkan hal itu ke bagian MBG,” ujar Warsa.
Laporan tersebut kemudian direspons pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kerticala II sebagai penyedia makanan MBG. Satu wadah lauk ayam yang terindikasi memiliki bau tidak sedap disebut langsung diganti.
Namun, proses penggantian berlangsung ketika para siswa sudah menunggu makanan. Sebagian siswa yang lapar disebut langsung menyantap menu MBG sebelum seluruh proses penggantian selesai.
“Anak-anak yang lapar langsung makan. Ada yang makan dua, tiga, atau satu potong. Kalau guru-guru belum sempat makan sama sekali,” katanya.
Tak lama berselang, sejumlah siswa mulai mengeluhkan kondisi tubuh mereka. Keluhan yang muncul antara lain mual dan pusing.
Siswa yang mengalami gejala kemudian dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Jumlah siswa yang menjalani pemeriksaan pun terus bertambah seiring proses pendataan.
Warsa mengatakan, sekitar pukul 14.30 WIB, lebih dari 60 siswa telah mendapatkan penanganan awal di puskesmas. Data berikutnya berkembang menjadi sekitar 76 hingga 77 siswa.
Jumlah itu kemudian tercatat mencapai 105 siswa. Berdasarkan pembaruan terakhir dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Indramayu, total siswa yang mengalami gejala mencapai 143 orang.
“Laporan yang saya terima langsung di lokasi sekitar 70-an anak. Namun laporan di luar mencatat lebih dari itu, kemungkinan karena ada siswa yang sempat berobat jalan lalu terdata kembali,” jelasnya.
Sekolah Berangsur Normal
Sehari setelah kejadian, aktivitas belajar mengajar di SMAN 1 Tukdana mulai kembali normal. Warsa menyebut sekitar 90 persen siswa yang sebelumnya terdampak sudah kembali mengikuti kegiatan belajar.
Pihak sekolah juga melakukan pengecekan ke setiap ruang kelas untuk mengetahui kondisi dan kehadiran siswa.
“Di seluruh yang terdampak kurang lebih 90 persennya sudah masuk sekolah,” ujarnya.
Meski demikian, sekolah tetap memberikan kelonggaran kepada siswa yang masih merasa kurang sehat. Mereka diminta tidak memaksakan diri mengikuti kegiatan belajar dan segera melapor kepada guru apabila kembali mengalami keluhan.
Warsa mencontohkan, terdapat seorang siswa yang sempat datang ke sekolah, tetapi kemudian harus dibawa ke rumah sakit karena masih mengalami gejala.
“Hari ini aktivitas sekolah sudah relatif normal. Tadi memang ada satu siswa yang sempat berangkat ke sekolah, tetapi karena masih mengeluh gejala, langsung dirujuk ke rumah sakit. Setelah diperiksa, kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang,” tuturnya.
Distribusi MBG Dihentikan Sementara
Sementara itu, distribusi MBG di SMAN 1 Tukdana untuk Selasa (6/10) dihentikan sementara.
Penghentian tersebut dilakukan seiring proses investigasi yang dilakukan petugas gabungan untuk mengetahui penyebab munculnya gejala pada para siswa.
Pihak sekolah mengaku tidak mengetahui sampai kapan penghentian distribusi MBG tersebut berlangsung. Sekolah menyerahkan sepenuhnya proses pemeriksaan kepada pihak yang berwenang.
“Kami belum tahu distopnya itu sampai kapan, tetapi apapun keputusannya kami sifatnya hanya penerima manfaat program ini dan akan mematuhi apapun keputusannya,” kata Warsa.
Pihak sekolah berharap investigasi dapat mengungkap penyebab kejadian tersebut. Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
