INDRAMAYUUPDATE – Kilang Pertamina Balongan tengah bersiap melaksanakan pekerjaan krusial di tengah laut, yakni proses Change Over atau penggantian Single Point Mooring (SPM) 12,5 M dengan SPM berkapasitas 165.000 DWT.
Proyek lepas pantai atau offshore ini dijadwalkan berlangsung selama 12 hari pada Oktober 2026.
Pekerjaan chang over ini diketahui bertujuan untuk menjaga keandalan kelancaran penerimaan bahan baku dan keberlangsungan penyaluran energi nasional.
Executive General Manager (EGM) Kilang Balongan Yulianto Triwibowo menerangkan, SPM merupakan sarana apung di tengah laut milik Pertamina.
Fasilitas tersebut merupakan tempat bertambatnya kapal tanker yang digunakan untuk menyalurkan minyak mentah dari kapal tanker menuju kilang pengolahan.
Keberadaan SPM tersebut pun sangat vital, selain berfungsi sebagai sarana tambat kapal tanker, SPM juga berfungsi sebagai urat nadi penyaluran minyak mentah atau crude oil dari laut menuju fasilitas pengolahan Kilang Balongan.
“Untuk itu kami telah melakukan persiapan yang matang karena pekerjaan di lepas pantai ini juga memiliki tingkat risiko tinggi, mulai dari pencahayaan, gelombang laut, pergerakan alat berat, hingga aktivitas penyelaman bawah air,” ujar Yulianto, Senin (12/10/2026).
Yulianto menjelaskan, dalam pelaksanaannya ada beberapa rangkaian aktivitas teknis yang perlu diperhatikan karena memiliki risiko yang tinggi.
Mulai dari tahapan disconnecting dan connecting sistem penambatan rantai jangkar, pembongkaran dan pemasangan kembali subsea hose atau floating hose, hingga pengujian kebocoran dan commissioning.
Untuk itu, Yulianto meminta keselamatan kerja harus tetap menjadi prioritas utama dalam setiap proses pengerjaan penggantian SPM tersebut.
Ia juga mengingatkan agar para pekerja wajib mematuhi aspek HSSE (Health, Safety, Security, and Environment).
“Implementasikan elemen HSSE di lingkungan kerja, pahami dan jalankan secara konsisten program Stop Work Authority (SWA),” ujarnya.
Yulianto menjelaskan bahwa Stop Work Authority merupakan wewenang setiap pekerja dan mitra kontraktor untuk menghentikan pekerjaan jika menemukan kondisi atau tindakan tidak aman yang berpotensi membahayakan keselamatan manusia, lingkungan, aset, maupun operasional perusahaan.
“Kita semua sama, jika melihat kondisi tidak aman atau tidak sesuai prosedur hentikan pekerjaan. Alat rusak bisa diganti, tapi jika nyawa melayang tidak akan bisa terganti,” ungkap Yulianto.
Persiapan pekerjaan ini juga ditandai dengan penandatanganan komitmen bersama yang mencakup tiga poin utama.
Yakni para pekerja berkomitmen untuk selalu mematuhi dan menerapkan kebijakan HSSE, menyukseskan pelaksanaan pekerjan sesuai dengan target zero fatality, on quality, on schedule dan on budget, serta menjaga kondusifitas di lingkungan kerja.
“Kami berharap pekerjaan krusial yang berlokasi di tengah laut ini dapat sukses dilakukan karena SPM ini merupakan salah satu urat nadi utama dalam rantai pasok energi di Kilang RU Balongan,” pungkasnya.
