Berita  

Hujan Turun di Wilayah Majalengka di Tengah Operasi Modifikasi Cuaca di Sekitar Langit Gunung Ciremai

INDRAMAYUUPDATE – Hujan turun membasahi sejumlah wilayah di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, pada Senin (26/10/2026) sore hingga malam hari.

Beberapa wilayah yang melaporkan turun hujan di antaranya Kecamatan Cigasong, Panyingkiran, Kadipaten, Ligung, serta Kertajati.

Wilayah tersebut mengalami intensitas curah hujan yang beragam. Mulai dari gerimis hingga hujan sedang.

Bagi warga Majalengka, kehadiran hujan pada sore hingga malam hari tersebut menjadi momen yang melegakan di tengah kondisi kekeringan yang turut melanda wilayah tersebut selama musim kemarau.

“Iya hujan waktu Senin sore, walau gak besar,” kata Ujang, warga Kadipaten, Selasa (27/10/2026).

Hal senada juga diungkapkan Rida, warga Cigasong. Ia menuturkan bahwa hujan yang turun bahkan bertahan hingga malam hari.

“Sampai malam juga, sekitar jam 7 malam kalau gak salah masih turun,” ucapnya.

Terkait turunnya hujan ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kertajati menyebut bukan berarti wilayah Majalengka saat ini telah memasuki musim penghujan.

Prakirawan BMKG Kertajati, Dyan Anggraeni menjelaskan, bahwa wilayah Majalengka secara klimatologis sebenarnya belum resmi memasuki musim hujan.

Kabupaten Majalengka diperkirakan baru akan memasuki awal musim hujan pada November hingga Desember 2026 mendatang.

“Betul, wilayah Majalengka memang belum memasuki musim hujan. Namun, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Itu tergantung pada kondisi dinamika atmosfer,” kata Dyan.

Menurut Dyan, pada akhir Oktober ini memang terjadi peningkatan potensi hujan di sejumlah wilayah, termasuk di Pulau Jawa.

Fenomena tersebut dipengaruhi oleh aktifnya gelombang Rossby serta terbentuknya wilayah pertemuan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

“Akhir Oktober ini memang diprakirakan potensi hujan akan meningkat di beberapa wilayah karena disebabkan oleh aktifnya gelombang Rossby serta terbentuknya wilayah pertemuan angin,” jelasnya.

Pada fase tersebut, potensi hujan diprediksi akan meningkat secara bertahap hingga akhirnya memasuki awal musim hujan yang sesungguhnya.

BMKG Kertajati menjelaskan, suatu wilayah secara teknis dinyatakan telah memasuki musim hujan apabila curah hujan mencapai 50 milimeter (mm) atau lebih dalam satu dasarian (periode 10 hari), dan diikuti oleh minimal dua dasarian berikutnya secara berturut-turut.

Awal musim hujan pun dapat terjadi maju (lebih awal), sama, atau mundur (lebih lambat) dari normalnya.

Menariknya, hujan yang turun di Majalengka terjadi di tengah berlangsungnya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi ini dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Alkonost Aviasi Indonesia dengan menggunakan pesawat Cessna C208B/PK-ALA.

Pesawat tersebut sebelumnya telah lepas landas dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, dengan membawa total 3 ton bahan semai natrium klorida (NaCl) guna meningkatkan potensi curah hujan pada Minggu (25/10/2026).

Sesuai jadwal, operasi tersebut disebut akan berlangsung hingga 30 Oktober 2026, tujuan utamanya adalah membantu pembasahan lahan, khususnya di kawasan Gunung Ciremai yang tengah menghadapi kebakaran hutan dan lahan, sekaligus mengatasi persoalan kekeringan.

Dyan menjelaskan, Operasi Modifikasi Cuaca tersebut tidak tiba-tiba menciptakan hujan begitu saja, melainkan lebih kepada upaya untuk memicu dan mengoptimalkan potensi awan yang sudah tersedia di atmosfer untuk memicu turunnya hujan.

“Peran OMC di sini adalah untuk memicu dan mengoptimalkan potensi yang ada. Jadi, potensinya sudah ada, tetapi belum tentu akan terjadi karena harus mengacu pada faktor lainnya juga. Adanya OMC ini kemudian meningkatkan potensi yang ada tersebut,” jelas Dyan.

Diketahui dalam operasi modifikasi cuaca ini, tim melakukan penaburan bahan semai natrium klorida (NaCl) dengan jumlah bahan semai yang telah disesuaikan dengan jenis awan dan target operasi.

Dengan intervensi ini, potensi awan didorong untuk memaksimalkan intensitas curah hujan yang turun.

“Garam yang ditabur menyesuaikan kebutuhan setiap hari, karena beda jenis awan beda perlakuan dan tergantung targetnya seperti apa,” jelas Dyan.

Meski tidak menyebutkan secara spesifik apakah hujan yang mengguyur Majalengka merupakan dampak langsung OMC atau murni fenomena alamiah, namun hal tersebut memberikan secercah harapan bagi warga.

Di tengah upaya penyelamatan ekosistem Gunung Ciremai dan perjuangan warga menghadapi kekeringan, langit Majalengka pada sore kemarin perlahan mulai menurunkan air hujan yang selama ini diharapkan oleh warga dalam beberapa bulan terakhir.

Exit mobile version