Di Balik Tragedi 12 Korban MD Mobil Pikap Pengantar Pengantin di Pantura Indramayu: 5 Anak-anak dan 1 Dewasa Selamat Dari Maut

INDRAMAYUUPDATE – Kecelakaan maut yang menimpa rombongan pengantar pengantin di Jalur Pantura Indramayu, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam. Dari total 18 penumpang mobil pikap Daihatsu Gran Max, sebanyak 12 orang meninggal dunia, sementara enam lainnya selamat dan masih menjalani perawatan.

Ironisnya, lima dari enam korban selamat merupakan anak-anak.

Kasat Lantas Polres Indramayu, AKP Undang Syarif Hidayat mengatakan, enam korban selamat saat ini masih dirawat intensif di RS Mitra Plumbon Indramayu.

“Enam orang korban luka-luka saat ini sedang dirawat intensif di RS Mitra Plumbon Indramayu,” kata Undang, Senin (13/7/2026).

Kelima anak yang selamat masing-masing bernama Olivia (4), Bayu Kelana (8), Saba (11), Jesika (2), dan Salma Yanti (4). Sementara satu korban dewasa yang selamat adalah Wandi (29). Seluruhnya merupakan warga Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu.

Polisi menyebut penyelidikan masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan. Pada Senin, petugas kembali melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan telah mengamankan dua sopir truk yang terlibat untuk dimintai keterangan.

Kepala Desa Cempeh, Nana Carkana, mengatakan rombongan saat itu baru pulang usai mengantar pengantin di Desa Parean, Kecamatan Kandanghaur.

Mobil pikap Gran Max bernomor polisi E-8559-RB yang mengangkut 18 orang, termasuk sopir, mengalami kecelakaan saat hendak berputar arah di Jalur Pantura Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Minggu (12/7) sore.

“Itu kejadian saat kendaraan mencoba berputar arah, tiba-tiba ada truk tronton yang langsung menghantam bagian belakang pikap,” ujar Nana.

Benturan keras membuat pikap terdorong ke depan hingga kembali bertabrakan dengan truk los bak yang berada di depannya. Akibat tabrakan beruntun tersebut, 12 orang meninggal dunia.

Menurut Nana, delapan korban meninggal di RS Bhayangkara Indramayu dan empat lainnya di RS Mitra Plumbon. Sementara enam korban lainnya berhasil selamat meski mengalami luka-luka.

Nana mengungkapkan sebagian besar korban merupakan warga Desa Cempeh. Dari 12 korban meninggal, sembilan di antaranya warga Desa Cempeh, sedangkan tiga lainnya merupakan warga Desa Kiajaran Kulon.

Seluruh korban disebut masih memiliki hubungan keluarga dan tinggal di lingkungan yang berdekatan.

“Korban berasal dari satu RT, ada yang ayah dengan anak. Mereka habis mengantar pengantin,” kata Nana.

Suasana duka menyelimuti Desa Cempeh setelah belasan jenazah tiba pada Minggu sore. Seluruh korban kini telah dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat.

Pemerintah Desa Cempeh berharap enam korban yang masih menjalani perawatan dapat segera pulih sehingga bisa kembali berkumpul bersama keluarga.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version