INDRAMAYUUPDATE – Bau tanah basah dan bulir padi yang merunduk di Desa Jatisura, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini membawa cerita baru.
Bukan lagi soal kecemasan musim kemarau atau tingginya harga pupuk kimia, melainkan tentang kisah kemandirian para petani yang kini berhasil melipatgandakan hasil panennya lewat upaya menyuburkan kembali tanah melalui bersahabat dengan alam.
Bulir-bulir padi yang merunduk siap dipanen itu pun menjadi bukti nyata dari perjuangan panjang dan proses belajar para petani desa setempat.
Diketahui pada panen musim tanam kedua ini, produktivitas gabah kering panen (GKP) petani Desa Jatisura bisa menyentuh angka 10,60 ton per hektare.
Angka tersebut melonjak drastis 61,6 persen dibandingkan hasil panen sebelumnya yang hanya berkisar 6,56 ton per hektare, atau ketika petani belum mendapat pendampingan.
Kenaikan signifikan juga terjadi pada produktivitas gabah kering giling (GKG) yang menyentuh angka 9,32 ton per hektare, naik 65,2 persen dari sebelumnya 5,64 ton.
Keberhasilan ini diketahui berhasil dicapai berkat Program Kerja Tani Berdikari dan Tahan Pangan (Jari Tangan) yang diusung oleh PT Pertamina EP Jatibarang Field (PEP Jatibarang) bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE).
Sosok dibalik keberhasilan ini salah satunya adalah Suradi. Ia diberi tugas sebagai lokal hero melakukan pendampingan kepada para petani di desanya oleh PT Pertamina.
Dengan sabar dan telaten, Suradi menjadi motor penggerak yang menularkan ilmu-ilmu pembuatan agens hayati dan pupuk organik kepada sesama petani.
“Alhamdulillah pada panen kali ini kita bisa lihat sendiri bagaimana hasil yang didapat petani,” ujar Suradi, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Suradi, keberhasilan program Jari Tangan tak lepas dari kolaborasi erat dari banyak pihak.
Selain PT Pertamina EP Jatibarang Field dan PT Pertamina Hulu Energi, kesuksesan program ini juga didukung oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), UPTD dan Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Cikedung.
Termasuk oleh kalangan akademisi dari Universitas Padjadjaran yang juga ikut membantu mengawal dari mulai perencanaan hingga evaluasi.
Program ini diketahui difokuskan dengan pengelolaan lahan pengganti Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
Dalam prosesnya, Suradi mencoba mengubah pola bertani yang selama ini sangat bergantung pada pupuk kimia.
Dengan pendekatan yang selama ini ia lakukan, secara bertahap kebiasaan tersebut kini akhirnya mulai ditinggalkan, berganti dengan kebiasaan menggunakan bahan organik yang lebih ramah lingkungan.
Misi ini adalah upaya jangka panjang untuk menyehatkan kembali tanah tanah agar semakin subur, sehingga manfaatnya bisa dirasakan petani di kemudian hari.
“Petani Jatisura kami ajak untuk bersahabat kembali dengan alam melalui penggunaan agens hayati, racikan pupuk kompos, serta pestisida nabati,” kata Suradi.
Selain edukasi, lewat program ini, Petani di Jatisura juga mendapat bantuan dari sisi infrastruktur.
Seperti pengairan dengan dibangunkannya 5 titik sumur air dalam, perbaikan saluran irigasi, serta pembenahan jalan usaha tani.
Tak hanya itu, bantuan benih unggul, traktor, sprayer elektrik juga diberikan untuk menyukseskan program Jari Tangan.
“Termasuk pembangunan rumah burung hantu (rubuha) sebagai pemangsa alami hama tikus. Alhamdulillah petani sangat terbantu oleh seluruh bantuan tersebut,” ujarnya.
Hingga kini, program Jari Tangan yang diusung oleh PT Pertamina EP Jatibarang Field bersama PT Pertamina Hulu Energi tercatat telah merangkul sebanyak enam kelompok tani di Desa Jatisura.
Mereka adalah Kelompok Tani Sekarjati, Rejeki Tani I, Rejeki Tani III, Rejeki Tani IV, Gunda Rejeki Tani, dan Kelompok Tani Makmur.
Tak kurang dari 60 petani juga telah dilatih secara intensif untuk memproduksi pupuk dan pestisida alami secara mandiri.
“Ilmu yang didapat tidak boleh berhenti di saya. Petani harus bisa mandiri memproduksi pupuk sendiri agar biaya operasional turun dan tanah kita kembali subur,” ungkap Suradi.
Langkah Suradi sekaligus memastikan bahwa api pengetahuan ini tak padam saat program usai, melainkan terus diwariskan antarpetani.
Ketua Pokja Pengembangan Masyarakat SKK Migas, Roy Widiartha yang hadir langsung saat panen raya di Desa Jatisura pada Selasa (6/10/2026) kemarin, turut menyampaikan apresiasinya soal sinergi erat yang terjalin di lapangan dalam menyukseskan program Jari Tangan.
“Industri hulu migas tidak hanya hadir untuk menjaga ketahanan energi nasional, tetapi juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi. Apa yang kita lihat hari ini di Jatisura menunjukkan bahwa ketahanan energi dan ketahanan pangan dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan,” jelas Roy.
Hal senada juga disampaikan oleh Manager Communication, Relations & CID PT Pertamina EP, Pinto Budi Bowo Laksono.
Ia menegaskan, bahwa kemandirian masyarakat adalah inti dari setiap pendampingan yang dilakukan Pertamina.
“Bagi kami, hasil panen ini bukan hanya tentang peningkatan angka produktivitas, tetapi bagaimana proses pendampingan memperkuat pengetahuan dan kemampuan petani mengelola lahannya secara mandiri,” ujarnya.
Lewat program Jari Tangan Pinto juga ingin menegaskan komitmen Pertamina untuk tumbuh bersama masyarakat secara berkelanjutan.
Di sisi lain, melimpahnya hasil panen petani Desa Jatisura lewat pendampingan program Jari Tangan tersebut turut mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah daerah.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Indramayu, Rory Firmansyah menyebut, keberhasilan ini sekaligus mengukuhkan kembali posisi Indramayu sebagai daerah andalan lumbung padi nasional.
“Semoga status lumbung pangan nasional ini bisa terus kita pertahankan dengan lebih meningkatkan lagi hasil produksi petani,” kata Rory.
Sementara itu, Camat Cikedung, Dadang Supriatna menilai, infrastruktur yang turut difasilitasi Pertamina turut menjadi penyelamat para petani agar bisa tetap produktif di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Misalnya sumur air dalam, adanya infrastruktur ini ditambah adanya pendampingan yang diberikan, membuat petani tetap bisa menanam dan berhasil panen melimpah meskipun di musim kemarau,” tutur Dadang penuh rasa syukur.
Pada akhirnya dari hamparan sawah Desa Jatisura ini sebuah pesan tersirat jelas ketika manusia bersedia merawat dan bersahabat kembali dengan alam, bumi tidak akan pernah ingkar janji untuk memberi penghidupan yang melimpah dan keberlanjutan bagi masa depan.




