INDRAMAYUUPDATE – Ratusan warga yang tengah menikmati Car Free Night (CFN) di Taman Aspirasi Rakyat Indramayu (Tari) mendadak mendapat tontonan berbeda pada Sabtu (26/9/2026) malam. Sebuah film berformat vertikal berjudul Ratu Tarling diputar di tengah keramaian warga.
Film tersebut merupakan garapan sutradara Toto Hoedi bersama Kflix yang mengangkat budaya lokal Nusantara. Untuk edisi Indramayu, kesenian Tarling dipilih sebagai bagian utama cerita.
Pantauan di lokasi, warga yang sebelumnya menikmati suasana CFN terlihat berkumpul untuk menyaksikan film yang menampilkan latar kehidupan masyarakat Indramayu tersebut.
Toto Hoedi mengatakan, Ratu Tarling menjadi bagian dari proyek untuk mengangkat kekayaan budaya lokal dari berbagai daerah. Selain Indramayu, proyek tersebut juga menyasar sejumlah daerah lain seperti Cirebon, Pemalang hingga Solo.
“Indramayu ini sebenarnya sangat kaya budaya. Salah satunya Tarling yang memang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat,” kata Toto saat ditemui di sela-sela kegiatan nonton bareng.
Menurut Toto, Tarling bukan sekadar kesenian musik. Perkembangannya telah melekat dengan kehidupan masyarakat Indramayu dan terus bertahan hingga era modern.
Hal itulah yang membuatnya tertarik mengangkat Tarling ke dalam sebuah film.
Toto juga melihat budaya memiliki banyak sisi yang menarik untuk diolah menjadi cerita, termasuk mitos dan kisah-kisah yang berkembang di tengah masyarakat.
“Kalau kita bicara Tarling, sebenarnya banyak versi. Kita bicara bagaimana musik itu bisa mendominasi pikiran orang. Hanya dengan gitar dan suling bisa mempengaruhi pikiran orang,” ujarnya.
Kisah Penyanyi Tarling
Ratu Tarling tidak hanya menampilkan pertunjukan musik Tarling. Film tersebut membawa penonton mengikuti kehidupan seorang perempuan bernama Laila.
Laila digambarkan sebagai penyanyi Tarling yang berusaha menghidupi keluarganya. Di tengah keinginannya meraih kesuksesan, ia harus menghadapi berbagai persoalan dan stigma yang melekat terhadap profesi penyanyi lokal.
Cerita kemudian berkembang menjadi perjalanan Laila menghadapi konflik, keterpurukan hingga berusaha bangkit kembali.
Toto mengatakan, salah satu pesan yang ingin disampaikan melalui film tersebut adalah bahwa orang-orang yang menjalani profesi sebagai penyanyi Tarling juga memiliki keinginan dan sisi positif dalam hidupnya.
“Pada dasarnya semua orang menjadi penyanyi Tarling itu punya nilai keinginan positif. Cuma perjalanannya ini yang di-blow up (dibesar-besarkan) oleh orang sedemikian rupa,” jelasnya.
“Saya ingin kasih tahu bahwa mereka juga punya nilai positif yang seharusnya tidak dilupakan. Mereka juga bisa kembali menjadi orang baik,” sambung Toto.
60 Persen Pemeran Warga Indramayu
Ada hal lain yang menjadi perhatian dalam produksi Ratu Tarling. Toto sengaja melibatkan warga lokal sebagai pemeran.
Hampir 60 persen pemain dalam film tersebut merupakan warga asli Indramayu.
Keputusan itu dilakukan bukan sekadar untuk mencari pemeran tambahan. Toto ingin mempertahankan dialek dan suasana lokal agar cerita yang ditampilkan terasa lebih natural.
Menurutnya, menggunakan warga asli membuat proses produksi lebih mudah. Para pemain sudah terbiasa menggunakan bahasa dan dialek Indramayu dalam kehidupan sehari-hari.
“Kita cuma membutuhkan waktu empat hari karena memang ini dialek mereka sehari-hari. Kami hanya mengarahkan cara beraktingnya saja,” tuturnya.
Toto bahkan mengaku terkesan dengan kemampuan para pemeran lokal, termasuk anak-anak. Mereka dinilai mampu membawakan dialog dengan bahasa Indramayu secara alami.
Salah satu dialog yang muncul dalam film adalah ungkapan khas Indramayu, “delengen bae dewek”.
Menurut Toto, penggunaan bahasa lokal tersebut justru menjadi salah satu kekuatan yang membuat film terasa lebih hidup.
Ingin Buka Jalan Bakat Lokal
Toto mengatakan keterlibatan warga lokal sekaligus menjadi bagian dari upaya menggali potensi daerah yang selama ini belum banyak mendapat ruang di industri perfilman.
Melalui Ratu Tarling, ia ingin budaya lokal tidak hanya dikenal masyarakat daerah asalnya, tetapi juga dapat diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia secara lebih luas.
Namun, bukan hanya budaya yang ingin ditampilkan.
Toto juga ingin menunjukkan bahwa daerah memiliki banyak talenta yang bisa berkembang di dunia perfilman.
“Yang saya ingin kampanyekan bahwa selain budaya yang harus dilihat oleh seluruh Indonesia, kemampuan bakat-bakat dari dalam daerah itu juga harus keluar,” ujarnya.
“Setelah dari Indramayu, kita rencananya juga mau ke Cirebon dan daerah-daerah lain,” tambah Toto.
Lucky Hakim Ikut Nostalgia
Nonton bareng Ratu Tarling di Taman Aspirasi Rakyat Indramayu turut dihadiri Bupati Indramayu Lucky Hakim.
Lucky yang pernah berkecimpung di dunia hiburan mengaku ikut bernostalgia ketika melihat film tersebut.
Terlebih, sejumlah pemeran dalam film ternyata merupakan warga Indramayu. Latar lokasi yang familiar bagi masyarakat setempat juga membuat pengalaman menonton terasa berbeda.
“Ternyata yang main orang Indramayu ya. Latarnya juga ini saya lihat Indramayu. Mereka main juga keren, saya jadi ikut flashback,” kata Lucky.
Menurut Lucky, masih banyak kekayaan budaya Indramayu yang berpotensi diangkat ke layar lebar maupun film dengan format lainnya.
Ia menyebut tari topeng dan seni berokan sebagai beberapa contoh kesenian yang memiliki cerita menarik.
“Itu sangat menarik juga kalau diangkat film. Belum lagi berkat film ini menunjukkan bahwa warga Indramayu rupanya juga jago berakting,” ujar Lucky.
Bagi Lucky, pengangkatan budaya lokal ke dalam film menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan Indramayu kepada masyarakat yang lebih luas.






