Jalan Kaki Demi Pulang, Kisah Calon Ayah Terdampar Usai Ditipu Dapat Pekerjaan hingga Ditolong Polisi di Indramayu

Kisah Firman, calon ayah asal Majalengka yang terdampar di Indramayu dan nekat berjalan kaki pulang sebelum akhirnya ditolong polisi.

Screenshot

INDRAMAYUUPDATE – Langit mulai gelap ketika Mohamad Firman Aryanto (34) masih berjalan menyusuri jalanan Kota Indramayu. Langkahnya berat. Tubuhnya kelelahan, sementara dompetnya sudah tak berisi uang.

Namun ada satu alasan yang membuat pria asal Majalengka itu terus memaksakan diri berjalan: ingin segera pulang menemui istrinya yang tengah mengandung anak mereka.

Malam itu, Kamis (24/9/2026), Firman sebenarnya sedang berada jauh dari rumah. Ia datang ke Indramayu setelah mendapat tawaran pekerjaan sebagai anak buah kapal (ABK) dari seorang teman.

Sebagai calon ayah, Firman berharap pekerjaan tersebut bisa menjadi jalan keluar dari kesulitan ekonomi yang dihadapinya. Ia ingin memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih sang istri tengah menanti kelahiran buah hati mereka.

Namun harapan tersebut justru berujung pada kesulitan.

Firman mengaku ditinggalkan oleh temannya setelah sampai di Indramayu. Pekerjaan sebagai nelayan yang sebelumnya dijanjikan tak kunjung jelas.

Ia pun bertahan seorang diri di kota orang hingga akhirnya memilih pulang dengan berjalan kaki.

Perjalanan itu ternyata tidak mudah. Ketika berada di kawasan Jalan Ir H Juanda, Desa Singaraja, Kecamatan/Kabupaten Indramayu, Firman sudah kehabisan tenaga.

Dalam kondisi tersebut, ia kemudian mencoba meminta pertolongan melalui layanan darurat kepolisian 110.

Laporan Firman diterima petugas sekitar pukul 18.41 WIB. Kapolsek Indramayu AKP Indrie Hapsari yang mendapat informasi tersebut langsung meminta anggotanya mendatangi lokasi.

Tak lama kemudian, polisi menemukan Firman dalam kondisi kelelahan di pinggir jalan.

Firman kemudian dibawa ke Mako Polsek Indramayu untuk beristirahat sekaligus menceritakan persoalan yang dialaminya.

“Kami ajak pelapor untuk ke Mako Polsek dahulu, memberinya tempat istirahat, sembari mendengar cerita lengkap dari pelapor soal masalah yang ia hadapi,” kata Indrie di Mako Polsek Indramayu, Jumat (25/9/2026).

Di hadapan polisi, Firman menceritakan bagaimana dirinya bisa sampai terdampar di Indramayu.

Sekitar sepekan sebelumnya, pada Kamis (17/9/2026), Firman yang sedang berada di rumah orang tuanya di kawasan Koja, Jakarta Utara, didatangi seorang teman bernama Yusuf.

Yusuf kemudian menawarkan pekerjaan sebagai nelayan di pesisir Indramayu dengan iming-iming penghasilan yang cukup besar.

Tawaran tersebut diterima Firman. Kondisi ekonomi dan kebutuhan untuk mempersiapkan kelahiran anak membuatnya berharap pekerjaan itu bisa menjadi solusi bagi keluarganya.

Keduanya kemudian berangkat menuju Desa Karangsong, Indramayu.

Sesampainya di Indramayu, Firman memang sempat diajak menuju sebuah kapal nelayan. Namun, ia mengaku tidak mendapat kepastian mengenai pekerjaan yang sebelumnya dijanjikan.

Tidak ada kejelasan mengenai pekerjaan tersebut, termasuk informasi mengenai kapal maupun pemiliknya.

Situasi semakin sulit ketika pada Selasa (22/9/2026), Firman yang sedang tertidur karena kelelahan justru ditinggalkan oleh temannya.

Sejak saat itu, Firman bertahan seorang diri di Indramayu.

Meski merasa kecewa, Firman memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Bahkan ketika ditanya polisi, ia mengaku tidak ingin membuat laporan terhadap temannya.

Bagi Firman, saat itu tidak ada lagi yang lebih penting selain bisa kembali ke rumah dan bertemu istrinya.

“Pengadu tidak mempermasalahkan terkait pekerjaan yang dijanjikan oleh temannya dan tidak membuat laporan polisi,” ujar Indrie.

Mendengar cerita tersebut, polisi kemudian memutuskan membantu Firman agar tidak perlu melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan kaki.

Indrie bersama anggotanya kemudian patungan untuk memesan taksi online yang akan mengantar Firman menuju rumahnya di wilayah Majalengka.

Firman pun akhirnya bisa melanjutkan perjalanan dengan kendaraan. Sejumlah anggota polisi bahkan menemaninya hingga kendaraan tersebut meninggalkan halaman Mako Polsek Indramayu.

Bagi Firman, bantuan tersebut menjadi pertolongan yang sangat berarti setelah melewati hari-hari sulit seorang diri di Indramayu.

Indrie mengatakan, membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari tugas kepolisian. Ia juga mengingatkan bahwa layanan darurat 110 tidak hanya dapat digunakan untuk melaporkan tindak pidana.

Masyarakat dapat menghubungi layanan tersebut ketika berada dalam kondisi darurat dan membutuhkan bantuan kepolisian.

“Jangan ragu meminta bantuan kepolisian. Setiap laporan masyarakat akan kami tindak lanjuti sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan,” tegasnya.

Dalam video yang diterima, Firman juga menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran Polsek Indramayu yang telah membantunya pulang.

“Saya Muhammad Firman mau mengucapkan banyak terima kasih kepada bapak-bapak dan Kapolsek Indramayu yang telah membantu saya untuk bisa pulang ke Majalengka,” kata Firman.

Malam itu, perjalanan Firman memang berawal dari rasa putus asa. Ia datang ke Indramayu dengan harapan mendapatkan pekerjaan, tetapi justru harus bertahan seorang diri tanpa uang hingga terpaksa berjalan kaki untuk pulang.

Namun, langkah panjang tersebut akhirnya terhenti setelah bantuan datang melalui panggilan darurat 110.

Di tengah persoalan yang menimpanya, Firman juga memilih tidak memperpanjang masalah dengan orang yang meninggalkannya.

Ia hanya ingin satu hal: pulang dan kembali berada di sisi istrinya yang sedang menantikan kelahiran buah hati mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page