INDRAMAYUUPDATE – Acara Haurgeulis Fest di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sukses menyedot animo ribuan masyarakat di wilayah Kecamatan Haurgeulis dan sekitarnya pada Sabtu (22/8/2026) malam.
Di tengah rangkaian acara yang berlangsung meriah sejak pagi hingga malam hari itu, terdapat satu momen yang mencuri perhatian publik.
Ribuan warga tampak bersama-sama menyerukan penolakan keras terhadap perilaku seks menyimpang atau Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).
Saat dihubungi, Camat Haurgeulis, Rory Firmansyah menceritakan soal inisiatif yang dilakukan oleh ribuan warga di wilayahnya tersebut.
Menurut Rory Firmansyah, deklarasi tersebut merupakan inisiatif murni dari masyarakat.
“Jadi itu memang murni gerakan yang didasari oleh teman-teman komunitas muslim Haurgeulis. Saat komunitas anak muda Haurgeulis buat event, mereka mengundang komunitas lainnya, termasuk muslim Haurgeulis. Di dalam acara itu, salah satunya kampanye menolak LGBT,” kata Rory, Selasa (25/8/2026).
Rory menyampaikan, pemerintah kecamatan pada prinsipnya sangat mendukung segala bentuk kegiatan warga yang bersifat positif.
Secara pribadi, ia juga memandang LGBT sangat berbahaya, baik dari segi kesehatan maupun sosial budaya.
Dalam kegiatan tersebut, turut diungkapkan data terkait kasus HIV di Jawa Barat pada tahun 2025 yang mencapai 9.212 kasus, di mana salah satu pemicunya diduga disumbang oleh perilaku seks menyimpang.
“Dampak bagi kesehatan kan sangat tidak baik, kemudian dampak pada sosial budaya juga. Menurut saya secara pribadi, LGBT ini bukan hal yang baik,” tutur Rory.
Meski tidak memiliki data pasti mengenai ada atau tidaknya aktivitas kelompok LGBT di wilayahnya, disampaikan Rory, lewat aksi tersebut, warga Haurgeulis secara tegas menunjukkan sikap mereka yang menolak LGBT ada di wilayah mereka.
Warga bersama-sama mendeklarasikan bahwa mereka tidak menolak adanya perbedaan, namun yang mereka tolak adalah bentuk penyimpangan.
“Intinya di dalam gerakan ini warga Haurgeulis menolak keras LGBT,” tegasnya.
Penolakan terhadap LGBT dalam acara tersebut juga disuarakan oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari warga, tenaga medis, hingga tokoh lintas agama.
Seorang warga Haurgeulis, Rudi Hartono, mengajak masyarakat untuk membentengi diri dengan memperkuat nilai-nilai spiritualitas dan agama.
Ia juga mengimbau warga untuk selektif memilih lingkungan pergaulan dan mengajak seluruh elemen untuk bekerja sama mengedukasi bahaya LGBT.
“Sekali kami kami tegaskan untuk katakan tidak pada LGBT,” seru Rudi.
Dari kacamata medis, Tomy Misbahul Muslim yang merupakan perawat di RSUD MA Sentot Patrol menjelaskan, bahwa LGBT merupakan ancaman nyata bagi kesehatan para pelakunya.
“Di antaranya itu, LGBT dapat menimbulkan adanya infeksi menular seksual yang akan memicu berbagai macam penyakit seperti HIV, hingga sifilis,” jelas Tomy.
Sementara itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Haurgeulis, Bakhrudin, turut menegaskan ketidaksetujuannya terhadap keberadaan LGBT.
Ia berharap gerakan di Haurgeulis ini bisa menjadi pemicu agar LGBT tidak lagi memiliki tempat di tengah masyarakat Indonesia.
“Hak asasi manusia yang diberikan Tuhan kepada kita, bukan berarti kita memiliki kebebasan sebebas-bebasnya,” ujar Bakhrudin.
Senada dengan hal tersebut, tokoh agama Nasrani, Yason, menilai perilaku LGBT sangat tidak sesuai dengan norma dan etika yang berlaku di Indonesia.
Ia bahkan mendorong pemerintah untuk membuat regulasi atau undang-undang khusus yang melarang LGBT berkembang di Tanah Air.
“Karena kita ketahui bersama, LGBT itu sudah menyalahi kodrat. Kalau ini terus dibiarkan, sudah pasti generasi muda negara kita bisa rusak,” pungkas Yason.




