Pemuda Desa Tempel Kulon Indramayu Bikin Ornamen Garuda Raksasa dari Tripleks Jelang HUT Kemerdekaan RI Ke-81

INDRAMAYUUPDATE — Pemandangan berbeda terlihat saat melintasi jembatan yang menjadi pintu masuk Desa Tempel Kulon, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Sebuah ornamen Garuda berukuran raksasa berdiri kokoh dengan sayap terbentang lebar. Di seberangnya, terdapat sosok Semar, tokoh bijaksana dalam kelompok Punakawan pewayangan Jawa.

Ornamen tersebut bukan karya seniman profesional. Garuda raksasa itu merupakan hasil kreativitas dan gotong royong para pemuda Desa Tempel Kulon untuk menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Tempel Kulon bahkan rela begadang setiap malam sejak Juni 2026 untuk menyelesaikan karya tersebut.

“Ini murni buatan pemuda karang taruna untuk menyambut HUT Kemerdekaan. Tanpa ada paksaan, tanpa ada bayaran, riil kita ngopi bareng judulnya,” kata pengurus Karang Taruna Desa Tempel Kulon, Panji Asmara Bangun, saat ditemui di lokasi, Rabu (12/8/2026) sore.

Berbekal tripleks dan material seadanya, para pemuda merangkai kepingan demi kepingan ornamen di kediaman Panji.

Setelah rampung, pemasangan ornamen di gerbang desa dilakukan secara gotong royong selama lima hari.

Garuda raksasa tersebut didominasi warna merah dan putih. Agar semakin menarik pada malam hari, para pemuda memasang lampu LED sehingga ornamen itu terlihat menyala ketika malam tiba.

Pada bagian dada Garuda terdapat perisai Pancasila lengkap dengan lima simbol silanya. Di bagian bawah terdapat tulisan “HUT RI 81”.

Sementara itu, angka “17-08-45” dan “17-08-26” turut menghiasi bagian kanan dan kiri ornamen. Angka pertama menjadi simbol tanggal Proklamasi Kemerdekaan, sedangkan angka kedua menandai peringatan HUT Kemerdekaan tahun 2026.

Lima bendera Merah Putih dan sejumlah umbul-umbul juga dipasang di sekitar ornamen.

Panji mengatakan, ide awal para pemuda sebenarnya bukan membuat Garuda raksasa.

Mereka sempat berencana membuat replika Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, setelah menghitung kebutuhan biaya dan material, rencana tersebut akhirnya dibatalkan.

“Awalnya mau bikin IKN, tapi setelah dihitung biayanya tidak sedikit. Waktu itu kemudian disetujui, ya sudah Garuda saja, soalnya ini kan lambang negara juga,” ujarnya.

Pemilihan Garuda ternyata bukan sekadar untuk memeriahkan suasana kemerdekaan.

Para pemuda menitipkan harapan agar simbol Garuda tersebut menjadi gambaran cita-cita Desa Tempel Kulon untuk terus berkembang.

Mereka berharap Desa Tempel Kulon bisa “terbang tinggi” menjadi desa yang mandiri dengan masyarakat yang semakin sejahtera.

Jadi Spot Foto Warga

Kerja keras para pemuda selama berminggu-minggu kini mendapat respons positif dari warga.

Saat malam tiba dan lampu LED dinyalakan, gerbang desa tersebut berubah menjadi lokasi warga berkumpul. Tidak sedikit warga yang datang untuk sekadar melihat maupun berfoto di depan ornamen Garuda.

“Kalau malam itu ramai, suka ada yang foto-foto,” kata Panji.

Antusiasme tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pemuda yang mengerjakan ornamen tanpa menerima bayaran.

Panji mengatakan, pengerjaan karya tersebut juga tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Desa Tempel Kulon.

“Alhamdulillah pemerintah desa mendukung banget, mulai dari anggaran, semangatnya, dari masyarakat juga ada, terutama dari bapak kuwu. Kami berterima kasih banget,” tuturnya.

Kepala Desa Tempel Kulon Caryono mengaku bangga melihat hasil kreativitas para pemuda tersebut.

Dia menyaksikan langsung bagaimana para pemuda rela mengorbankan waktu istirahat untuk mengerjakan ornamen pada malam hari, setelah pada siang harinya menjalani aktivitas masing-masing.

“Ini adalah karya pemuda desa kami yang punya inisiatif dan ide. Kami dari Pemdes sifatnya memberikan dukungan. Hasilnya itu bagus, sampai banyak yang pada selfie di sana,” kata Caryono.

Menurut dia, pemuda merupakan salah satu elemen penting dalam menggerakkan pembangunan desa. Karena itu, ruang kreativitas mereka harus terus didukung.

Apalagi, Garuda raksasa tersebut bukan karya pertama yang dibuat pemuda Tempel Kulon. Dua tahun sebelumnya, mereka juga pernah membuat ornamen perahu berukuran besar.

“Kami pun ingin mengucapkan terima kasih kepada para pemuda yang sudah membuat karya ini untuk Desa Tempel Kulon,” ujarnya.

Wakil Ketua Karang Taruna Desa Tempel Kulon, Wirano, mengatakan menyatukan banyak pemuda dengan ide dan kesibukan berbeda bukan perkara mudah.

Namun, komunikasi yang baik serta perhatian dari pemerintah desa membuat para pemuda akhirnya bisa bekerja bersama.

“Para pemuda gotong royong meski tidak dibayar sepeser pun. Dibilang sulit mengakomodir pemuda bisa jadi, tapi alhamdulillah dengan pendekatan dan perhatian Pemdes, pemuda jadi guyub dan kompak,” kata Wirano.

Karya tersebut sekaligus menjadi gambaran semangat gotong royong warga Tempel Kulon dalam menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

Di bawah bentangan sayap Garuda raksasa dari tripleks itu, para pemuda menunjukkan bahwa keterbatasan material dan anggaran bukan penghalang untuk berkarya.

Semangat kemerdekaan pun tidak hanya diwujudkan lewat pesta dan kemeriahan, tetapi juga melalui gotong royong, kreativitas, dan kolaborasi untuk membawa desa menjadi lebih maju.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page