INDRAMAYUUPDATE – Tak ada satu pun sinyal operator seluler yang bisa ditangkap di Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Namun, keterbatasan itu tak membuat warga menyerah atau terisolasi.
Desa yang berada di bawah kaki Gunung Ciremai ini justru mampu beradaptasi dengan memanfaatkan jaringan internet berbasis Wi-Fi sebagai sarana komunikasi sehari-hari. Hampir seluruh rumah warga kini telah terhubung ke internet meski telepon seluler tidak mendapatkan sinyal.
Kepala Desa Cikaracak, Aon, mengatakan jaringan Wi-Fi mulai masuk ke desanya sejak 2018 dan kini menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Hampir semua rumah langganan Wi-Fi. Ada juga yang satu Wi-Fi dipakai beberapa rumah dengan cara patungan. Jadi walaupun tidak ada sinyal operator, warga tetap bisa terhubung ke internet,” kata Aon saat ditemui di Balai Desa Cikaracak, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, pemerintah desa juga memasang jaringan Wi-Fi yang saling terhubung agar akses internet bisa menjangkau lebih banyak wilayah. Fasilitas tersebut tidak hanya dimanfaatkan perangkat desa, tetapi juga warga hingga tamu yang datang.
“Kalau ada tamu tinggal saya kasih password. Jaringannya bisa tersambung di beberapa titik karena antar-router saling terhubung,” ujarnya.
Aon menjelaskan, sulitnya sinyal telekomunikasi masuk ke Desa Cikaracak disebabkan kondisi geografis desa yang berada di lembah di bawah kaki Gunung Ciremai. Sinyal baru bisa diperoleh apabila warga naik ke lokasi yang lebih tinggi.
Meski tanpa sinyal seluler, kebutuhan dasar masyarakat lainnya telah terpenuhi. Seluruh rumah warga sudah menikmati aliran listrik PLN, sementara pembangunan infrastruktur jalan juga terus diprioritaskan.
“Jalan desa sekarang hampir semuanya sudah beraspal. Yang rusak tinggal sedikit karena selama ini kami fokus membenahi infrastruktur,” katanya.
Di balik keterbatasan tersebut, Desa Cikaracak ternyata menyimpan potensi ekonomi yang besar. Desa yang berada di ketinggian sekitar 950 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini dihuni sekitar 3.614 jiwa, dengan sekitar 80 persen penduduk bekerja sebagai petani.
Lahan pertanian yang subur menghasilkan berbagai komoditas seperti cabai, kubis, kentang hingga bambu. Hasil panennya rutin dipasok ke berbagai pasar induk di sejumlah kota besar.
“Perputaran uang masyarakat di sini bisa mencapai miliaran rupiah, terutama saat musim panen,” ujar Aon.
Tak hanya mengandalkan pertanian sayuran, pemerintah desa kini juga mulai mengembangkan Kopi Cikaracak sebagai komoditas unggulan sekaligus penunjang rencana agrowisata.
Menurut Aon, kopi arabika yang ditanam di tanah vulkanis bekas aliran Gunung Ciremai memiliki karakter rasa yang khas.
“Tanahnya hitam karena vulkanis, jadi rasa kopinya lebih smooth dan creamy,” ucapnya.
Saat ini luas kebun kopi baru sekitar 4-5 hektare. Pada 2026, pemerintah desa berencana menambah sekitar 4 hektare lahan baru dengan target penanaman sekitar 10 ribu pohon kopi.
Panen perdana ditargetkan mampu menghasilkan sedikitnya 4 ton kopi. Pengembangan dilakukan secara bertahap melalui swadaya masyarakat dan pemanfaatan program pemerintah.
Bagi Aon, Desa Cikaracak membuktikan bahwa tidak adanya sinyal telekomunikasi bukan berarti harus tertinggal. Dengan memanfaatkan internet berbasis Wi-Fi serta mengembangkan potensi pertanian dan perkebunan, desa di bawah kaki Gunung Ciremai itu terus berupaya membangun ekonomi masyarakat meski berada jauh dari jangkauan sinyal seluler.






