Bisnis  

Dampak Rupiah Melemah Mulai Terasa di Pasar Tradisional Indramayu, Pedagang Keluhkan Pembeli Berkurang dan Harga Naik

INDRAMAYUUPDATE – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan para pedagang di pasar tradisional. Di Pasar Baru Indramayu, sejumlah komoditas rempah-rempah dan kacang-kacangan mengalami kenaikan harga dalam beberapa pekan terakhir.

Salah seorang pedagang rempah-rempah, Munadi (63), mengaku kenaikan harga paling terasa terjadi pada bawang putih. Menurutnya, harga bawang putih yang sebelumnya berada di kisaran Rp 28 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp 35 ribu per kilogram.

“Kalau untuk eceran saya jual Rp 36 ribu per kilogram. Di warung-warung mungkin sudah bisa sampai Rp 40 ribu per kilogram,” kata Munadi saat ditemui di Pasar Baru Indramayu, Selasa (9/6/2026).

Selain bawang putih, sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan. Kemiri naik dari Rp 42 ribu menjadi Rp 45 ribu per kilogram, ketumbar dari Rp 30 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram, sementara bawang bombai kini dijual sekitar Rp 28 ribu per kilogram.

Munadi mengatakan kenaikan harga tersebut berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Ia mengaku jumlah pembeli mulai berkurang dibandingkan sebelumnya.

“Pembeli sekarang berkurang. Mungkin karena harga naik juga, jadi masyarakat lebih menahan belanja,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Juhanah. Ia menyebut harga sejumlah komoditas kacang-kacangan juga ikut merangkak naik.

Menurutnya, harga kedelai yang sebelumnya Rp 9.500 per kilogram kini menjadi Rp 11 ribu per kilogram. Sementara kacang hijau naik dari Rp 32 ribu menjadi Rp 35 ribu per kilogram.

“Itu untuk kacang hijau kualitas bagus yang impor. Kalau kualitas kedua sekitar Rp 28 ribu per kilogram,” kata Juhanah.

Kenaikan harga tersebut, lanjut Juhanah, membuat banyak pelanggan mengurangi jumlah pembelian. Kondisi itu berdampak pada pendapatan pedagang yang ikut menurun.

“Yang biasanya beli 10 kilogram sekarang cuma 5 kilogram. Otomatis penghasilan juga ikut turun,” ujarnya.

Untuk bertahan di tengah kondisi tersebut, Munadi mengaku memilih mengurangi margin keuntungan. Ia hanya mengambil keuntungan sekitar Rp 300 per kilogram agar harga jual tidak terlalu membebani konsumen.

“Sekarang paling ambil untung Rp 300. Yang penting barang cepat keluar dan tidak lama tersimpan,” katanya.

Munadi juga mengaku mulai khawatir dengan kondisi usahanya jika harga-harga terus mengalami kenaikan. Saat ini ia hanya mempekerjakan satu karyawan dari total dua orang pekerja yang dimiliki.

“Yang satu lagi sedang cuti. Kalau kondisi seperti ini terus, saya juga bingung untuk biaya operasional dan gaji karyawan,” ungkapnya.

Tak hanya pedagang, keluhan juga datang dari pembeli. Ririn (46), warga Kecamatan Sindang, mengaku harus lebih cermat mengatur pengeluaran rumah tangga karena banyak kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga.

“Mau tidak mau harus pintar-pintar mengelola uang. Harapannya pemerintah bisa segera mengatasi kondisi ini supaya harga kebutuhan pokok tidak terus naik,” kata Ririn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *