INDRAMAYUUPDATE – Sosok di balik hadirnya listrik tenaga surya yang kini menerangi Kampung Pasir Toro di Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, ternyata adalah seorang santri asal Bandung bernama Ujang Koswara.
Ujang hadir dalam peluncuran Program Rumah Terang yang digagas Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI di Blok Pasir Toro, Kamis (9/7/2026) malam. Inovasi panel surya buatannya menjadi komponen utama dalam program yang ditujukan untuk membantu masyarakat di daerah terpencil yang belum terjangkau jaringan listrik.
Ketua BAZNAS RI Sodik Mudjahid mengatakan, Program Rumah Terang merupakan salah satu program unggulan BAZNAS yang dikembangkan bersama anak bangsa.
“Ini adalah salah satu program unggulan BAZNAS RI yaitu Rumah Terang. Ini adalah bentuk kerja sama kami dengan anak bangsa dan hari ini langsung kami praktikkan di sini,” kata Sodik.
Sodik mengaku mengapresiasi keputusan Ujang yang tidak mengomersialkan hasil inovasinya. Menurutnya, panel surya tersebut justru diserahkan kepada BAZNAS agar manfaatnya bisa dirasakan masyarakat di berbagai daerah.
“Penemunya ini luar biasa menurut saya. Dia tidak menjual ke yang lain padahal sangat bisa. Tapi, dia menyerahkannya kepada BAZNAS karena beliau ingin beramal,” ujarnya.
Sementara itu, Ujang bercerita ide membuat panel surya muncul saat pemerintah menjalankan program konversi minyak tanah ke gas pada 2007-2008. Saat itu, banyak warga kesulitan mendapatkan minyak tanah untuk penerangan, termasuk keluarganya.
“Problemnya rumah yang masih gelap itu rata-rata secara ekonomi itu di bawah kemiskinan. Waktu konversi dari minyak tanah ke gas itu kebetulan ibu saya juga korban, nyari minyak tanah susah, akhirnya saya pikir saya harus membantu,” kata Ujang.
Menurut Ujang, panel surya tersebut bukan hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membantu mengurangi beban pengeluaran warga.
Ia mencontohkan, sebelumnya warga harus membeli sekitar satu liter solar seharga Rp 15 ribu yang hanya cukup digunakan selama dua hari untuk menyalakan lampu. Dengan panel surya, pengeluaran itu bisa dihemat.
“Kalau satu bulan mereka bisa lebih hemat, ada uang Rp 225 ribu yang bisa dipakai buat beli beras satu karung, perumpamaannya seperti itu,” ujarnya.
Ujang menjelaskan, setiap paket yang dibagikan kepada warga sudah dilengkapi panel surya, kabel, lampu, hingga perangkat pendukung lainnya. Seluruhnya diberikan secara gratis dengan usia pakai yang diklaim dapat mencapai sekitar 10 tahun.
Menariknya, seluruh proses produksi panel surya tersebut dilakukan melalui pemberdayaan santri di Pondok Pesantren Darul Hidayah Bandung, dibantu warga binaan Lapas Sukamiskin sejak 2012.
“Ini tidak kita jual di pasaran dan ini dikerjakan oleh santri. Kita tidak punya pabrik, melainkan lewat pemberdayaan, jadi uangnya tidak ke mana-mana, tapi kembali ke santri,” tuturnya.
Di balik inovasi yang kini menerangi kampung terisolasi di tengah hutan Indramayu itu, Ujang mengaku tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang kelistrikan. Seluruh kemampuannya diperoleh secara otodidak.
“Saya otodidak, belajarnya dari YouTube,” pungkasnya.
