Berita  

Saham Bank Mandiri Merosot Usai Viralnya Isu Pemblokiran Rekening Milik Pendemo

INDRAMAYUUPDATE – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) melemah pada perdagangan sesi I, Senin (24/8/2026). Saham bank pelat merah tersebut turun 30 poin atau 0,71 persen ke level Rp4.190 per lembar.

Berdasarkan data IDX Mobile, BMRI sebelumnya dibuka di level Rp4.220 per saham. Sepanjang perdagangan sesi I, saham BMRI bergerak di rentang Rp4.170 hingga Rp4.220.

Frekuensi transaksi BMRI tercatat mencapai 17,34 ribu kali dengan volume 52,32 juta saham. Nilai transaksi saham tersebut mencapai sekitar Rp219,1 miliar.

Tekanan juga terlihat dari transaksi investor asing. Berdasarkan data Stockbit, BMRI masuk jajaran 15 besar saham dengan net foreign sell terbesar hingga sesi I.

BMRI berada di posisi ke-14 dengan nilai net sell asing sekitar Rp19,64 miliar dan volume penjualan bersih 4,69 juta saham.

Pergerakan saham BMRI terjadi di tengah sorotan terhadap Bank Mandiri terkait rekening milik Koordinator Aliansi Masyarakat PatiBersatu (AMPB), Supriyono alias Botok.

Rekening tersebut sebelumnya disebut mengalami pemblokiran ketika Supriyono memimpin aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, pada Jumat (21/8).

Saldo sekitar Rp80,9 juta dalam rekening tersebut disebut berasal dari dana pribadi serta donasi masyarakat untuk kebutuhan operasional massa aksi.

Selain akses perbankan, Supriyono juga dilaporkan mengalami peretasan terhadap akun media sosialnya. Kondisi tersebut membuat sejumlah demonstran dari daerah harus bertahan di Jakarta dengan mengandalkan bantuan solidaritas masyarakat setempat.

Analis: Jangan Langsung Kaitkan Pelemahan dengan Isu Rekening

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai penurunan saham BMRI pada sesi I belum bisa sepenuhnya dikaitkan dengan isu rekening Supriyono.

Menurut dia, pelemahan juga dipengaruhi dinamika sektor perbankan dan aksi ambil untung setelah saham BMRI sebelumnya menguat 1,69 persen pada perdagangan Jumat (21/8).

“Ini juga mencerminkan dinamika sektor perbankan dan aksi profit taking setelah BMRI sebelumnya menguat 1,69 persen pada Jumat,” kata Aji saat dihubungi IDN Times.

Meski demikian, Aji menilai isu rekening tersebut tetap perlu diperhatikan. Menurutnya, persoalan dapat berkembang menjadi risiko reputasi apabila tidak segera disertai penjelasan yang transparan mengenai dasar hukum dan prosedur yang dilakukan.

Risiko reputasi tersebut pada akhirnya berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap tata kelola perusahaan.

Namun, Aji mengingatkan investor agar tidak mengambil keputusan secara terburu-buru hanya berdasarkan isu tersebut.

Investor dinilai perlu mencermati klarifikasi resmi Bank Mandiri, perkembangan aspek hukum, serta kemungkinan dampaknya terhadap fundamental perseroan.

“Selama isu ini bersifat kasus individual dan tidak berdampak pada kualitas aset, likuiditas, profitabilitas, maupun kepercayaan nasabah secara luas, saya melihat dampaknya terhadap fundamental BMRI masih relatif terbatas,” ujarnya.

Dengan kondisi tersebut, pelemahan BMRI saat ini dinilai lebih mencerminkan sentimen jangka pendek. Investor tetap perlu memperhatikan level support teknikal serta perkembangan arus dana asing.

Bank Mandiri Minta Maaf

Sebelumnya, Bank Mandiri menyampaikan permintaan maaf terkait polemik rekening tersebut.

Corporate Secretary Bank Mandiri, Adhika Vista, mengatakan tindakan terhadap rekening Supriyono dilakukan berdasarkan permintaan aparat penegak hukum (APH).

Menurutnya, langkah tersebut telah dilakukan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.

“Pemblokiran tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan aparat penegak hukum, dan telah dilakukan sesuai prosedur serta ketentuan yang berlaku,” kata Adhika.

Bank Mandiri, lanjut dia, berkomitmen menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG), kepatuhan, serta prinsip kehati-hatian dalam menjalankan layanan perbankan.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version