INDRAMAYUUPDATE – Sebanyak 10.673 hektare tanaman padi di Kabupaten Indramayu terancam gagal panen atau puso akibat kekeringan. Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu mendesak pemerintah segera mengalirkan pasokan air dari Waduk Jatiluhur melalui Bendung Salamdarma untuk menyelamatkan ribuan hektare sawah yang mulai mengering.
Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengatakan pasokan air harus segera didistribusikan oleh Unit Pelayanan Irigasi. Menurutnya, keterlambatan penyaluran air berpotensi menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi padi.
“Kami meminta agar air dari Bendung Salamdarma segera dialirkan untuk menyelamatkan tanaman padi petani. Jika tidak, ini bisa terjadi puso,” kata Sutatang, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan laporan yang diterima KTNA, total lahan sawah yang terancam puso mencapai 10.673 hektare. Areal tersebut tersebar di enam kecamatan, yakni Sukra, Patrol, Anjatan, Kandanghaur, Gabuswetan, dan Bongas.
Sukra menjadi wilayah dengan ancaman kekeringan terluas, mencapai sekitar 2.500 hektare. Disusul Patrol sekitar 2.100 hektare, Anjatan 2.000 hektare, Kandanghaur 2.000 hektare, Gabuswetan 1.573 hektare, serta Bongas sekitar 500 hektare.
KTNA mengaku telah mengajukan permohonan audiensi kepada Unit Pelayanan Irigasi agar distribusi air dapat segera direalisasikan. Permohonan serupa juga diajukan pengurus KTNA di enam kecamatan yang terdampak.
Menurut Sutatang, kondisi tersebut sangat mendesak karena usia tanaman padi di lahan terdampak rata-rata baru 7 hingga 25 hari. Pada fase pertumbuhan tersebut, tanaman sangat membutuhkan pasokan air.
Meski kondisi lahan mulai retak-retak akibat kekeringan, Sutatang menyebut tanaman padi masih berwarna hijau sehingga masih berpeluang diselamatkan apabila air segera dialirkan.
“Kami berharap pemerintah bisa segera merespons keluhan air ini demi menyelamatkan ribuan hektar sawah sebelum benar-benar berujung pada gagal panen massal,” pungkasnya.
