INDRAMAYUUPDATE – Sebuah rumah gubuk tak layak huni di Desa Karangampel Kidul, Kecamatan Karangampel, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dihuni 7 orang dari 3 kepala keluarga (KK). Rumah milik lansia Sarilah (70) itu masih berlantai tanah dan berdinding tripleks.
Rumah tersebut berada di dalam gang sempit, tepat di sisi saluran irigasi. Kondisinya jauh dari kata layak. Sirkulasi udara buruk, pencahayaan minim, sementara ruang di dalam rumah begitu terbatas.
Sarilah tinggal bersama anak, cucu hingga cicitnya yang masih bayi. Tiga kamar yang tersedia tidak dilengkapi pintu. Para penghuni harus tidur berdesakan di atas kasur yang sudah lusuh.
Kondisi serupa terlihat pada fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK). Fasilitas tersebut menyatu dengan dapur dalam satu ruangan. Barang-barang rumah tangga pun menumpuk di berbagai sudut karena keterbatasan ruang.
Kondisi itu akhirnya mendapat perhatian Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji.
Di sela kunjungan kerjanya di Indramayu, Wihaji menyempatkan diri mendatangi rumah Sarilah pada Kamis (17/9/2026).
Wihaji bahkan sempat menumpang salat di dalam rumah tersebut. Ia ingin melihat langsung kondisi hunian yang selama ini ditempati keluarga Sarilah.
“Saya sudah lihat sampai ke dalam tadi. Antara kebutuhan air, MCK, kemudian dapur itu menyatu. Tempat tidurnya juga perlu dibantu. Karena itu, salah satu syarat bantuan kita adalah termasuk KRS,” kata Wihaji.
Dapat Bantuan Bedah Rumah Rp 50 Juta
Kondisi rumah tersebut menjadi perhatian karena di dalamnya terdapat bayi yang masuk dalam periode seribu hari pertama kehidupan.
Bayi tersebut bernama Muhammad Azhar Fauzan. Ia merupakan cicit Sarilah.
“Kita kunjungi yang namanya KRS atau Keluarga Risiko Stunting, yang kebetulan punya anak seribu hari pertama kehidupan atau Baduta (bawah dua tahun),” ujar Wihaji.
Wihaji kemudian memberikan bantuan bedah rumah senilai Rp 50 juta kepada keluarga Sarilah. Bantuan tersebut disalurkan melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang berkolaborasi dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).
Selama rumah direnovasi, pemerintah juga akan menyiapkan tempat tinggal sementara bagi tujuh penghuni rumah tersebut.
“Nanti beliau kita tawari mau ngontrak atau separuh-separuhan. Kalau ngontrak, nanti saya tanggung jawab untuk kontrakannya,” ucap Wihaji.
Bantuan serupa juga diberikan kepada keluarga risiko stunting lainnya di Desa Karangampel Kidul. Penerimanya yakni keluarga Nur Alfi yang saat ini tengah menanti kelahiran bayi.
Ayah Bayi Sehari-hari Mengamen, Ingin Punya Usaha Bakso
Tak hanya bedah rumah, Wihaji juga menawarkan bantuan modal usaha kepada keluarga Sarilah.
Ayah bayi Azhar, Muhammad Nabil, selama ini bekerja sebagai pengamen jalanan. Bersama istrinya, Nabil setiap hari pergi ke Kota Indramayu untuk mengamen menggunakan speaker.
Penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak menentu dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan keluarga.
Wihaji kemudian menanyakan usaha yang ingin dijalankan Nabil.
“Nanti usaha ya, maunya usaha apa? Nanti saya modalin,” kata Wihaji.
Nabil pun mengaku ingin berhenti mengamen dan membuka usaha bakso.
“Gak mau sih Pak kalau terus-terusan begini (mengamen). Maunya usaha,” jawab Nabil.
Nabil kemudian menyampaikan kebutuhan modal yang diperlukan. Dia memperkirakan membutuhkan Rp 3 juta untuk gerobak dan Rp 3 juta untuk bahan baku.
Total Rp 6 juta tersebut langsung disetujui Wihaji.
Pemdes Kawal Renovasi Rumah
Kepala Desa Karangampel Kidul, Mamat Rodiatul Anwar, mengatakan keluarga Sarilah masuk kategori warga prasejahtera. Keluarga tersebut juga telah tercatat sebagai penerima bantuan sosial.
Mamat memastikan pemerintah desa akan ikut mengawal proses renovasi rumah tersebut.
“Kita dari Pemdes akan ikut mengawal semuanya dari awal sampai akhir. Keluarga ini memang sangat membutuhkan bantuan tersebut,” kata Mamat.
Bantuan bedah rumah dan modal usaha itu diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi hunian keluarga Sarilah, tetapi juga membantu meningkatkan kondisi ekonomi keluarga.
Bagi Sarilah dan keluarganya, rumah yang selama ini berdinding tripleks dan berlantai tanah diharapkan segera berubah menjadi hunian yang lebih sehat dan layak.
Sementara bagi Nabil, gerobak bakso yang akan dimilikinya menjadi harapan untuk meninggalkan pekerjaan mengamen dan memperoleh penghasilan yang lebih stabil bagi keluarganya.
