INDRAMAYUUPDATE – Bagi sebagian masyarakat, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia identik dengan upacara bendera dan berbagai perlombaan. Namun, bagi Susi (52), warga Desa Pamayahan, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, momen 17 Agustus justru menjadi ladang rezeki.
Sejak 2010, Susi rutin mengolah bambu menjadi tiang panjat pinang. Produk buatannya banyak dipesan panitia perlombaan kampung untuk memeriahkan HUT Kemerdekaan RI.
Usaha bambu tersebut sebenarnya sudah lama digeluti Susi. Sejak 1999, dia meneruskan usaha yang sebelumnya dirintis kedua orang tuanya.
Ide membuat tiang panjat pinang muncul secara tidak sengaja.
“Awalnya saya enggak ada niat jualan produk panjat pinang, tapi karena ada yang minta dibuatkan, makanya saya buat,” ujar Susi saat ditemui di lokasi produksinya, Minggu (16/8/2026).
Untuk membuat tiang panjat pinang, Susi memilih bambu gombong. Menurutnya, jenis bambu tersebut memiliki karakter kuat dan kokoh sehingga cocok digunakan sebagai tiang perlombaan.
Ada dua ukuran tiang yang diproduksinya. Untuk perlombaan anak-anak, Susi menyediakan tiang sepanjang 6 meter dengan harga Rp 130 ribu.
Sementara untuk kategori dewasa, panjang tiang mencapai 9 meter dan dibanderol Rp 180 ribu.
Pesanan mulai meningkat drastis sejak memasuki pekan pertama Agustus. Dalam periode tersebut, puluhan tiang panjat pinang dipesan pelanggan.
Menariknya, pesanan masih terus berdatangan meski tanggal 17 Agustus telah lewat. Sebab, sejumlah desa memilih menggelar perlombaan beberapa hari setelah hari kemerdekaan.
Pelanggan Susi juga tak hanya berasal dari Desa Pamayahan. Tiang panjat pinang buatannya sudah dikirim ke sejumlah kecamatan di Indramayu, di antaranya Terisi, Jatibarang, Losarang hingga Patrol.
Untuk memenuhi pesanan, Susi dibantu dua tukang yang memiliki keahlian khusus. Dia mengatakan proses merakit tiang panjat pinang membutuhkan teknik tersendiri agar konstruksinya kuat dan aman saat digunakan.
Selain dua tenaga ahli tersebut, sekitar lima pekerja lainnya turut membantu ketika permintaan sedang tinggi.
“Kalau permintaan meningkat, beberapa pekerja selain dua orang itu ikut bantu-bantu dalam pembuatan panjat pinang,” katanya.
Susi juga tak hanya duduk mengawasi. Ibu tiga anak itu ikut turun langsung dalam proses produksi. Saat ditemui, tangannya tampak cekatan mengikat salah satu bagian pijakan bambu yang sedang dirakit.
Puluhan tahun menjalankan usaha warisan orang tua bukan berarti perjalanan Susi selalu mulus. Dia mengaku pernah mengalami kerugian hingga sekitar Rp 20 juta.
Kerugian itu terjadi ketika bambu yang telah dikirim untuk sebuah proyek pembangunan di Indramayu tidak dibayar karena proyek tersebut mangkrak.
“Namanya juga usaha, saya pernah rugi sekitar Rp 20 jutaan,” kenangnya.
Meski pernah mengalami kerugian besar, Susi tak menyerah. Dia tetap mempertahankan usaha bambu yang telah dijalaninya selama puluhan tahun.
Kini, setiap memasuki bulan Agustus, aktivitas di tempat produksinya semakin sibuk. Dia berusaha menjaga kualitas tiang panjat pinang agar pelanggan puas dan kembali memesan.
Susi memang tak menyebut secara rinci keuntungan yang diperolehnya. Namun, dari usaha tersebut, dia mengaku mampu membayar para pekerja sekaligus membiayai pendidikan ketiga anaknya.
“Alhamdulillah saya bisa menyekolahkan tiga anak, yang kedua itu sekarang juga lagi kuliah. Disyukuri saja,” ujarnya sambil tersenyum.
Di tengah kemeriahan lomba 17 Agustus, tiang panjat pinang buatan Susi bukan sekadar sarana permainan.
Di balik bambu yang berdiri tegak itu, ada cerita tentang kegigihan seorang ibu mempertahankan usaha keluarga, menghidupi anak-anaknya, sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar.
