INDRAMAYUUPDATE — Jalan hidup Caryono penuh liku. Pria yang sehari-hari pernah berjualan bakso itu kini kembali dipercaya menjadi orang nomor satu di Desa Tempel Kulon, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Caryono dilantik sebagai Kepala Desa atau Kuwu Tempel Kulon untuk periode 2026-2034 setelah memenangkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak pada Desember 2025.
Kemenangan tersebut terasa istimewa. Sebab, Caryono awalnya sama sekali tak berniat mencalonkan diri. Kendala biaya menjadi alasan utama.
Namun, keinginan warga agar dirinya kembali memimpin desa ternyata begitu kuat. Perwakilan masyarakat dari sejumlah blok bahkan datang meminta Caryono maju dalam Pilkades.
Warga pun rela patungan mengumpulkan dana untuk membantu biaya pencalonannya. Mereka bahkan mengaku ikhlas jika uang tersebut tidak kembali apabila Caryono kalah.
“Awalnya saya tidak mau maju. Kapok sih enggak, cuma karena terbentur biaya. Kurang dua bulan sebelum pendaftaran, saya waktu itu juga masih jualan,” kata Caryono saat ditemui di Balai Desa Tempel Kulon, Rabu (12/8/2026) sore.
“Saya sudah pasrah karena tidak punya modal sama sekali. Tapi akhirnya perwakilan masyarakat dari masing-masing blok datang meminta saya maju lagi,” sambungnya.
Pernah Jadi Kuwu, Kalah 3 Suara
Caryono sebenarnya bukan wajah baru dalam pemerintahan desa. Ia pernah menjabat sebagai Kuwu Tempel Kulon periode 2012-2017.
Pada Pilkades berikutnya untuk periode 2018-2025, Caryono kembali mencalonkan diri. Namun, ia harus menerima kekalahan dengan selisih yang sangat tipis, hanya tiga suara.
Kekalahan itu membuat Caryono kembali menjalani aktivitasnya sebagai pedagang bakso.
Ia sempat mengadu nasib berjualan bakso di wilayah Cirebon pada 2018-2019. Karena biaya sewa tempat usaha yang terus meningkat dan pandemi COVID-19, ia kemudian memindahkan usahanya ke Janggleng, Desa Jatimulya, Kecamatan Terisi.
“Di Cirebon itu saya dagang sebenarnya sebentar, cuma dua tahun dari 2018 sampai 2019. Karena harga sewa naik terus dan terbentur Corona, akhirnya pindah ke Janggleng,” ujarnya.
Meski berjualan di luar desa, rumah Caryono tetap berada di Tempel Kulon.
Menang Telak Tanpa Serangan Fajar
Setelah akhirnya bersedia maju berkat dorongan warga, Caryono mendaftarkan diri sebagai calon kuwu. Total ada tiga calon yang bertarung dalam Pilkades Tempel Kulon 2025.
Selama masa kampanye, Caryono mengaku tidak melakukan pendekatan dengan cara-cara politik uang. Bersama timnya, ia lebih banyak berkeliling menemui warga dan menyerap aspirasi.
Hasilnya, Caryono justru menang dengan selisih sekitar 250 suara dari dua pesaingnya yang memiliki latar belakang sebagai mantan pegawai Kementerian Agama dan mantan pegawai KUA.
“Alhamdulillah, padahal saya cuma tukang bakso biasa dan tidak punya modal. Malah tadinya tidak ada niat maju, tapi karena permintaan warga, saya bismillah saja,” tutur Caryono.
Menurut Caryono, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat Tempel Kulon telah semakin dewasa dalam menentukan pilihan politik.
Ia menilai warga memilih berdasarkan rekam jejak dan hati nurani, bukan karena iming-iming tertentu.
“Mungkin saat saya jadi kuwu di periode pertama, kerja saya dirasakan oleh masyarakat. Jadi setelah tidak menjabat satu periode kemudian ada pencalonan lagi, mereka memercayakan saya untuk bisa memimpin lagi,” katanya.
Langsung Benahi Infrastruktur Desa
Setelah kembali dipercaya memimpin desa, Caryono langsung tancap gas. Salah satu fokusnya adalah membenahi infrastruktur sekaligus meningkatkan transparansi pengelolaan aset desa.
Mayoritas warga Tempel Kulon bekerja sebagai petani. Karena itu, akses menuju area persawahan menjadi salah satu perhatian pemerintah desa.
Pemdes Tempel Kulon juga telah mengecor jalan sepanjang 427 meter dengan lebar 2,5 meter yang menghubungkan pemakaman Buyut Jatem dan Buyut Kajongan.
“Kalau musim hujan tadinya becek, tidak bisa dilewati orang yang mau silaturahmi ke makam. Alhamdulillah di bulan empat kita bangun, sekarang sudah rata,” jelasnya.
Selain jalan, Pemdes Tempel Kulon juga melakukan renovasi halaman masjid dan sejumlah pembangunan lainnya.
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat tetap berjalan. Salah satu penopangnya berasal dari Pendapatan Asli Desa (PADes), termasuk hasil lelang tahunan tanah titisara.
Rangkul Pemuda dan Datangi Warga
Caryono juga membawa program unggulan berupa kegiatan kuwu mendatangi warga. Melalui program tersebut, ia ingin mendengar langsung persoalan serta aspirasi masyarakat untuk menjadi bahan dalam menentukan kebijakan desa.
Tak hanya itu, pemuda juga menjadi kelompok yang mendapat perhatian.
Dalam berbagai kegiatan desa, Caryono selalu berupaya melibatkan generasi muda. Menurutnya, pemuda merupakan elemen penting yang dapat menjadi penggerak pembangunan desa.
“Makanya setiap kegiatan kami juga selalu libatkan pemuda,” kata Caryono.
Pemdes Tempel Kulon juga tetap mendukung berbagai kegiatan adat dan budaya masyarakat, mulai dari Sedekah Bumi, Mapag Tamba, Mapag Sri hingga tradisi Unjung-unjungan yang dimeriahkan pertunjukan wayang.
Perjalanan Caryono dari balik gerobak bakso hingga kembali dipercaya memimpin desa menjadi kisah tersendiri di Tempel Kulon.
Ia membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat tak selalu lahir dari besarnya modal kampanye. Bagi Caryono, rekam jejak dan hubungan dengan warga justru menjadi modal utama untuk kembali mendapatkan amanah.
Kini, pria yang pernah berjualan bakso itu kembali mengenakan atribut kuwu. Bedanya, kali ini ia kembali ke balai desa bukan karena mengejar jabatan, melainkan karena warga yang memintanya untuk kembali memimpin.
