INDRAMAYUUPDATE – Di balik pesatnya pembangunan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, masih ada ratusan warga yang hidup tanpa aliran listrik dan kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi itu dialami warga Blok Pasir Toro, Desa Cikawung, Kecamatan Terisi, yang berada di tengah kawasan hutan Perhutani.
Akses menuju kampung tersebut masih berupa jalan tanah dan bebatuan. Tidak ada pula penanda yang menunjukkan keberadaan permukiman itu. Meski terisolasi, sekitar 300 warga tetap bertahan hidup di lokasi tersebut.
Salah seorang warga, Warji (80), mengaku telah tinggal di Pasir Toro selama 25 tahun. Selama itu pula keluarganya hidup tanpa listrik dan kesulitan memperoleh air.
“Sudah 25 tahun saya tinggal di sini. Nggak ada listrik, air juga susah. Sawah juga nggak ada air, gagal panen terus,” ujar Warji saat ditemui, Kamis (9/7/2026).
Warji mengaku ingin pindah ke tempat yang lebih layak. Namun keterbatasan ekonomi membuatnya tetap bertahan. Ia menggarap lahan hutan kurang dari satu hektare untuk menghidupi istri dan seorang anaknya.
Ketiadaan listrik membuat warga mengandalkan cempor atau lampu minyak sebagai penerangan. Kondisi itu juga dirasakan Onoh (56) yang sudah sekitar 25 tahun menetap di Pasir Toro.
Menurutnya, penggunaan cempor justru menambah beban pengeluaran keluarga. Satu liter solar hanya cukup digunakan sekitar dua hari.
“Mau gimana lagi, penerangan cuma dari cempor. Di sini nggak ada listrik,” kata Onoh.
Tak hanya listrik, persoalan air bersih juga menjadi tantangan sehari-hari. Warga mengandalkan kubangan tadah hujan sebagai sumber air untuk mandi dan mencuci. Air yang digunakan pun sering kali keruh.
Kondisi itu juga berdampak pada pendidikan anak-anak. Siti Fatimah (40), misalnya, terpaksa menitipkan anak bungsunya kepada neneknya di Subang agar bisa bersekolah dengan lebih mudah.
“Kalau di sini sekolah jauh, naik sepeda sekitar satu jam. Jadi anak tinggal sama neneknya di Subang,” ujarnya.
Titik terang akhirnya datang melalui Program Rumah Terang dari BAZNAS RI. Untuk pertama kalinya, rumah-rumah warga di Pasir Toro mendapatkan penerangan dari panel surya.
Sebanyak 103 bangunan yang terdiri atas 102 rumah dan satu masjid kini telah menikmati listrik tenaga surya. Secara nasional, BAZNAS menargetkan pemasangan panel surya di 452 rumah, dengan Pasir Toro menjadi lokasi awal pelaksanaan program.
Ketua BAZNAS RI, Sodik Mudjahid, mengatakan bantuan tersebut merupakan pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah masyarakat.
“Harapannya masyarakat semakin semangat belajar, bekerja, dan kesejahteraannya meningkat,” ujar Sodik.
Selain memasang panel surya, BAZNAS juga menerima aspirasi warga terkait kebutuhan air bersih yang hingga kini masih menjadi persoalan utama.
Kepala Desa Cikawung, Asep Rahayu, mengatakan kendala utama di Pasir Toro adalah listrik, air bersih, dan akses jalan karena lokasi permukiman berada di tengah hutan.
“Ada sekitar 300 warga tinggal di sini. Tapi yang tercatat administrasi desa belum semuanya karena banyak yang masih ber-KTP luar daerah,” kata Asep.
Menurutnya, pemerintah desa sejak dua tahun lalu telah meminta warga memusatkan permukiman agar lebih mudah dijangkau program bantuan pemerintah.
Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Indramayu Ahmad Syadali mengaku baru mengetahui masih ada permukiman di wilayahnya yang belum menikmati listrik.
Ia mengapresiasi langkah BAZNAS yang lebih dulu menghadirkan penerangan bagi warga dan menyebut kondisi Pasir Toro akan menjadi bahan evaluasi Pemkab Indramayu.
“Ini menjadi bahan kami untuk disampaikan kepada pimpinan. Ternyata masih ada warga yang kondisinya seperti ini karena lokasinya sangat terpencil,” ujar Syadali.
Syadali juga mengimbau warga segera mengurus administrasi kependudukan sesuai domisili agar lebih mudah terdata dalam berbagai program bantuan pemerintah.
