INDRAMAYUUPDATE – Kisah haru dialami Rahman (10), bocah penyandang disabilitas tunawicara asal Desa Anjatan Baru, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu. Setelah sekitar empat bulan tak diketahui keberadaannya, Rahman akhirnya kembali ke pelukan keluarganya.
Pertemuan Rahman dengan keluarganya tak lepas dari peran media sosial. Kondisinya yang sempat berada di rumah singgah milik Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, diunggah ke media sosial hingga akhirnya dikenali oleh warga yang mengetahui asal-usulnya.
Penyuluh Sosial Bidang Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Dinsos Indramayu, Karman, mengatakan Rahman telah diserahkan kembali kepada keluarganya pada Selasa (1/9/2026) malam.
Rahman dijemput keluarganya bersama pihak Dinsos Indramayu di Kota Cirebon. Sebelumnya, Rahman diantar petugas Dinsos Pemalang ke Cirebon karena bocah tersebut hanya mampu memberi petunjuk bahwa dirinya berasal dari Cirebon.
“Alhamdulillah kemarin malam sudah diserahkan kembali ke keluarganya, kami jemput di Dinsos Kota Cirebon setelah diantar oleh Dinsos Pemalang ke Cirebon,” ujar Karman saat ditemui di kantor Dinsos Indramayu, Rabu (2/9/2026).
Karman menuturkan, selama ini Rahman sehari-hari dirawat oleh kakeknya. Peristiwa hilangnya Rahman bermula saat musim panen padi di wilayah Anjatan.
Saat itu sang kakek pergi ke sawah untuk memanen padi dan membawa Rahman bersamanya. Hal tersebut disebut bukan sesuatu yang asing karena Rahman memang kerap ikut kakeknya ke sawah.
“Jadi anak ini itu dirawat sama kakeknya. Ceritanya waktu itu kan kebetulan musim panen ya di Anjatan, kakeknya ke sawah bawa Rahman dan memang biasanya seperti itu,” tutur Karman.
Namun, ketika sang kakek tengah memanen padi, Rahman tiba-tiba tidak terlihat. Seorang petani lain sempat melihat Rahman berjalan ke arah rumah.
Sang kakek mengira cucunya pulang lebih dulu. Ia pun melanjutkan aktivitasnya di sawah.
Setelah selesai memanen dan kembali ke rumah, sang kakek mendapati televisi masih menyala. Namun, Rahman ternyata tidak berada di rumah.
Keterangan dari tetangga kemudian menjadi petunjuk awal. Rahman disebut sempat meminta uang jajan sebelum berjalan kaki menuju jalan raya.
“Tetangganya waktu itu sempat memberi uang jajan karena mengira kakeknya sedang tidak ada dan pengen jajan. Ya sudah dikasih, tak tahunya jalan ke jalan raya,” kata Karman.
Rahman diduga kemudian menggunakan uang tersebut untuk menaiki angkutan umum dan melakukan perjalanan hingga ke wilayah Jawa Tengah.
Terjaring Razia di Pemalang
Perjalanan Rahman akhirnya berujung di Kabupaten Pemalang. Di daerah tersebut, Rahman terjaring razia petugas Satpol PP.
Karena tidak diketahui identitas maupun keluarganya, Rahman kemudian dititipkan di rumah singgah milik Dinsos Pemalang.
Kondisi Rahman yang merupakan penyandang disabilitas tunawicara membuat petugas mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dan mengetahui asal-usulnya.
Rahman diketahui telah tinggal di rumah singgah tersebut selama kurang lebih dua bulan.
Titik terang mulai muncul ketika Rahman mengalami demam tinggi. Petugas kemudian berupaya mencari informasi mengenai keluarganya, salah satunya melalui media sosial.
Petugas juga berusaha memahami komunikasi Rahman menggunakan bahasa isyarat. Dari komunikasi tersebut, Rahman menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Cirebon.
“Rahman pakai bahasa isyarat gitu bilang asal dari Cirebon, untungnya petugas bisa mengerti. Diunggahlah di medsos di komunitas warga Cirebon,” ujar Karman.
Unggahan tersebut kemudian menyebar dan mendapat respons dari warga. Hingga akhirnya seorang warga dari Anjatan mengenali wajah Rahman.
“Sampai akhirnya ada tetangganya di Anjatan Indramayu kenal, ‘ini mah tetangga saya’,” sambungnya.
Informasi itu kemudian ditindaklanjuti hingga keberadaan keluarga Rahman berhasil diketahui.
Diperkirakan Dua Bulan Berada di Jalan
Karman menjelaskan, terdapat perbedaan waktu mengenai lamanya Rahman hilang.
Menurut keterangan keluarga, Rahman telah hilang selama kurang lebih empat bulan. Sementara berdasarkan informasi dari Dinsos Pemalang, Rahman sudah berada di rumah singgah sekitar dua bulan.
Dengan demikian, Dinsos Indramayu memperkirakan sekitar dua bulan sebelumnya Rahman berada dalam perjalanan sebelum akhirnya ditemukan dan terjaring razia di Pemalang.
“Kemungkinan dua bulannya lagi itu dia di jalan, sampai akhirnya dirazia Satpol PP di Pemalang,” jelas Karman.
Setelah identitas dan keluarganya diketahui, Rahman kemudian diantar dari Pemalang menuju Cirebon. Dari sana, keluarga bersama Dinsos Indramayu menjemputnya untuk dibawa pulang ke Anjatan.
Pernah Hilang Beberapa Kali
Karman menyebut hilangnya Rahman dari rumah ternyata bukan kejadian pertama. Sebelumnya, Rahman juga beberapa kali pergi dari rumah hingga ditemukan di wilayah Subang dan Cirebon.
Kondisi tersebut membuat keluarga sebelumnya lebih fokus melakukan pencarian di dua daerah tersebut.
Karman juga meluruskan informasi yang beredar di media sosial terkait dugaan Rahman ditelantarkan atau sengaja dibuang keluarganya karena kondisi disabilitas yang dimilikinya.
Menurutnya, informasi tersebut tidak benar.
“Tidak ada penelantaran seperti yang beredar, justru keluarganya aktif mencari,” tegas Karman.
Ia juga mengapresiasi pemerintah desa yang dinilai responsif dalam mendampingi keluarga, termasuk saat proses penjemputan Rahman.
“Saya juga apresiasi Pemdesnya yang sangat responsif mendampingi keluarga menjemput Rahman setiap kali ia hilang dari rumah,” pungkasnya.
