INDRAMAYUUPDATE – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar nonsubsidi membuat ratusan kapal nelayan di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memilih tidak melaut. Kondisi ini berdampak langsung terhadap para anak buah kapal (ABK) yang kini terancam kehilangan mata pencaharian.
Salah satu ABK, Riyanto, mengaku sudah sekitar satu setengah bulan tidak melaut karena kapal milik juragannya berhenti beroperasi. Ia mengatakan, mahalnya harga solar menjadi alasan utama kapal tidak berangkat ke laut.
“Kurang lebih sudah satu bulan setengah saya di darat. Alasannya karena harga solar mahal,” kata Riyanto saat ditemui di Pelabuhan Karangsong, Selasa (5/5/2026).
Selama tidak melaut, Riyanto masih mendapat pekerjaan dari juragannya untuk memperbaiki jaring. Namun, ia tetap diliputi kekhawatiran jika kondisi ini terus berlanjut.
Riyanto berharap pemerintah segera mengambil kebijakan terkait harga BBM untuk nelayan. Pasalnya, ia harus memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk dua anak yang masih membutuhkan biaya hidup.
“Saya berharap ada solusi dari pemerintah. Kalau terus begini, takutnya kehilangan pekerjaan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan ABK lainnya, Nanang. Ia mengaku tidak memiliki keahlian lain selain menjadi nelayan, sehingga kondisi saat ini membuatnya cemas.
Nanang sendiri merupakan ABK yang biasa mencari ikan hingga ke Perairan Papua. Di laut, ia biasa menghabiskan waktu sekitar 7-9 bulan.
Di darat sendiri, Nanang biasanya menghabiskan waktu 1-3 bulan, kemudian berangkat lagi melaut.
“Sekarang belum tahu rencana berangkat lagi kapan. Ya sementara di darat dulu, soalnya ini juga jaring belum beres, terus kalau misal mesin ada keluhan juga kan harus dibenerin dulu, itung-itung nunggu ada kabar baik juga dari pemerintah,” kata dia.
Pada kesempatan itu, Nanang turut mengutarakan cita-citanya yang ingin menyekolahkan anak-anaknya hingga jenjang setinggi mungkin, melebihi orang tuanya.
Sebelumnya, ratusan nelayan di Indramayu telah menyampaikan aspirasi melalui surat terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto. Mereka meminta adanya kebijakan khusus terkait harga BBM untuk nelayan.
Para nelayan mengusulkan skema subsidi silang, dengan harga solar berada di kisaran Rp 11.000 hingga Rp 12.000 per liter, atau di atas harga subsidi namun di bawah harga industri saat ini.
Ketua Umum Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Kajidin, mengatakan lonjakan harga BBM nonsubsidi sudah di luar batas kemampuan nelayan. Ia menyebut harga Dexlite kini mencapai Rp 26.000 per liter.
Menurutnya, kapal berkapasitas 100 GT membutuhkan sekitar 100.000 liter BBM untuk sekali melaut. Artinya, biaya operasional bisa mencapai Rp 2,6 miliar, belum termasuk kebutuhan logistik lainnya.
“Dengan kondisi ini, banyak kapal yang akhirnya memilih tidak melaut karena pasti merugi,” kata Kajidin.
Akibatnya, ratusan kapal kini terparkir di Pelabuhan Karangsong. Jika situasi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi gelombang pengangguran di kalangan ABK.
Kajidin juga mengingatkan potensi dampak sosial yang bisa muncul, seperti meningkatnya angka kriminalitas akibat tekanan ekonomi.
“Kami khawatir kalau ini tidak segera ditangani, banyak ABK yang jadi pengangguran,” pungkasnya.
