Kisah Yuni Jualan Serabi di Pinggir Jalan Indramayu, Berjuang Demi Masa Depan Anak

INDRAMAYUUPDATE – Saat sebagian warga masih terlelap, Yuni (41) sudah sibuk menyiapkan adonan serabi di lapak sederhananya di Jalan Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu.

Setiap pagi, Yuni setia menyalakan tungku tradisional dan memanggang serabi satu per satu demi membantu perekonomian keluarganya. Aktivitas itu telah ia jalani bertahun-tahun tanpa mengenal lelah.

“Jualan tiap hari, dari matahari belum muncul juga sudah buka,” kata Yuni kepada detikJabar, Minggu (21/6/2026).

Di bawah rindangnya pepohonan, Yuni tampak cekatan mengangkat serabi yang baru matang dari cetakan tanah liat. Aroma khas dari bara kayu dan daun pandan yang digunakan untuk membuat serabi hijau atau serabi gupak kerap menarik perhatian pengendara yang melintas.

Meski sederhana, usaha itu menjadi sumber harapan bagi Yuni. Uang hasil berjualan serabi bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga demi pendidikan kedua anaknya.

“Yang penting anak-anak bisa sekolah dan kebutuhan sehari-hari tercukupi,” ujarnya.

Di tengah maraknya jajanan modern, serabi buatan Yuni masih memiliki banyak pelanggan. Dengan harga mulai Rp 2.000 per buah, pembeli bisa memilih berbagai varian rasa, mulai dari serabi hijau, polos putih, dage, telur, oncom hingga gula merah.

Menariknya, Yuni juga membebaskan pelanggan untuk berkreasi dengan isian sesuai selera.

“Bisa request mau dikasih apa. Kalau mau bawa isian sendiri dari rumah juga tidak apa-apa, saya buatkan,” katanya sambil tersenyum.

Namun, menjadi pedagang kaki lima bukan tanpa tantangan. Cuaca buruk dan naik-turunnya harga bahan baku sering kali memengaruhi pendapatannya. Saat musim hujan, jumlah pembeli biasanya menurun sehingga omzet ikut berkurang.

Meski demikian, Yuni memilih tetap bertahan. Baginya, selama masih ada kemauan untuk berusaha, selalu ada harapan untuk mendapatkan rezeki.

“Kadang habis, kadang masih sisa. Alhamdulillah yang penting ada rezeki buat anak,” ucapnya.

Perjuangan Yuni di balik tungku serabi tradisional itu menjadi gambaran nyata tentang kerja keras seorang ibu yang rela bangun sebelum fajar demi memastikan masa depan anak-anaknya tetap terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *