INDRAMAYUUPDATE – Fakta-fakta soal misteri hilangnya Aman Yani dalam pusaran kasus pembunuhan satu keluarga di Kabupaten Indramayu mulai muncul ke publik satu per satu.
Aman Yani ini diketahui adalah sosok yang dituding terdakwa Ririn Rifanto dan Priyo Bagus Setiawan sebagai pelaku sebenarnya pembunuhan Budi dan keluarganya.
Selain Aman Yani, kedua terdakwa juga menuduh pelaku lainnya yang bernama Hardi, Yoga, dan Joko.
Fakta terbaru soal kasus ini diungkap oleh seseorang bernama pak Dudu dan Irfan ketika diundang oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dalam tayangan kanal YouTube milik Dedi Mulyadi, yang dikutip indramayuupdate.com pada Jumat (8/5/2026). Pak Dudu dan Irfan mengungkapkan adanya dugaan manipulasi identitas yang dilakukan terdakwa Ririn Rifanto demi mencairkan uang pensiun milik Aman Yani.
Mendengar pengakuan tersebut, Dedi Mulyadi kemudian memberikan penekanan kepada keduanya soal kesaksian mereka tersebut.
Dedi mengingatkan segala hal yang diucapkan mesti dipertanggung jawabkan kebenarannya sesuai dengan Undang-undang.
“Jadi ini cerita dan selanjutnya menurut saya sudah terbuka. Saya yakin Polres Indramayu mampu menyelesaikan ini dengan cepat,” kata Dedi Mulyadi dalam videonya.
Fakta soal manipulasi identitas ini, awal mulanya dibongkar oleh pak Dudu, seorang mantan karyawan Hotel Prima Indramayu.
Menurut pak Dudu, sekitar tahun 2018, Ririn sering mampir ke tempat kerjanya untuk bertemu dengan temannya yang bernama Evan.
Sampai akhirnya, karena sering bertemu, Dudu pun kenal dengan Ririn. Cerita berlanjut, saat Ririn meminta tolong kepada pak Dudu untuk meminjam foto dirinya.
Foto tersebut rupanya digunakan oleh Ririn untuk membuat KTP palsu atas nama Aman Yani, tapi fotonya menggunakan foto pak Dudu.
Dari KTP palsu itu, kemudian dipergunakan untuk membuat ATM rekening BRI yang berisikan dana pensiun milik Aman Yani.
“Waktu itu, dibuatin Ririn KTP palsu, fotonya foto saya, tapi namanya Aman Yani untuk bikin ATM di bank,” cerita pak Dudu kepada Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi sendiri sempat menanyakan apakah membuat KTP palsu itu dilakukan di Disdukcapil atau tidak. Kemudian di jawab pak Dudu, ia tidak tahu menahu.
Kala itu, Diceritakan Dudu, Ririn hanya meminta izin untuk memfoto dirinya dan tiba-tiba KTP palsu atas nama Aman Yani tersebut jadi.
Setelah membuat ATM dari rekening Aman Yani, Ririn disebutkan Dudu jarang datang lagi ke hotel.
Adapun terkait aktivitas transaksi pada rekening Aman Yani yang selama ini terjadi, diduga kuat, dilakukan oleh Ririn.
Masih dalam kanal YouTube Dedi Mulyadi, keterangan dari pak Dudu tersebut turut dikuatkan oleh Irfan yang merupakan teman dari Ririn.
Irfan mengaku sempat dimintai bantuan oleh Ririn pada Juni 2025 lalu untuk mengambil uang pensiun dari buku tabungan milik Aman Yani.
Ririn cerita bahwa saldo dalam rekening tersebut masih tersisa sekitar Rp 17 juta dan ia ingin mengambil semua saldonya.
Permintaan tolong itu dilakukan Ririn karena ATM yang selama ini dipakai sudah tidak dapat digunakan lagi.
Irfan mengaku awalnya bersedia membantu Ririn, tapi urung dilakukannya setelah melihat KTP Aman Yani yang menggunakan foto pak Dudu.
“Kenapa kita (saya) gak jadi? Karena pas kita lihat KTP-nya, jih ini mah fotonya pak Dudu, saya kenal, jadi kita gak mau, kita balikin lagi lah persyaratannya ke Ririn,” kata Irfan.
Kuat dugaan, Ririn meminta tolong Irfan untuk menghindari wajahnya tersorot oleh kamera CCTV yang ada di Bank BRI.
Lebih lanjut, Irfan juga sempat menanyakan kepada Ririn ada di mana Aman Yani. Tapi selalu dijawab oleh Ririn, Aman Yani ada di Singapura dan sulit untuk dihubungi.
“Bos (panggilan ke Ririn), kok KTP KK semua ada di situ (Ririn) semua? Aman Yaninya ke mana? Di Singapura Um (panggilan Ririn ke Irfan). Kok bisa di Singapura, di sananya pakai KTP apa? Katanya di sana itu sudah punya sendiri. Ya sudah kita tuh,” kata Irfan menceritakan percakapannya dengan Ririn.
Hingga kini, kasus tersebut masih bergulir di persidangan. Dedi Mulyadi pun mendoakan agar kasus tersebut segera terungkap dan pelakunya mendapat hukuman setimpal.
“Semoga kasus pembunuhan ini segera divonis dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, menghilangkan nyawa satu keluarga dan sekarang ada satu lagi teka-teki, Aman Yani di mana? Masih hidupkah? Atau sudah tiada?” kata Dedi Mulyadi.
Di sisi lain, indramayuupdate.com sempat berusaha menemui Irfan ke kediamannya di Desa Penganjang serta rumah orang tuanya di Perumahan Pepabri.
Namun, Irfan disebutkan pihak keluarga sedang tidak ada di rumah. Keluarga juga membenarkan soal Irfan yang baru saja bertemu Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk menerangkan pengetahuannya soal kasus pembunuh satu keluarga tersebut.
“Iya waktu kemarin (Irfan) sempat bertemu sama pak Dedi Mulyadi. Semoga saja, kasus ini bisa secepatnya beres, bisa secepatnya terungkap,” kata istri Irfan saat ditemui di rumahnya.
Kasus pembunuhan satu keluarga ini juga menyita perhatian publik, terutama masyarakat Kabupaten Indramayu.
Tardiarto (45), salah seorang warga Desa Pilangsari, Kecamatan Jatibarang, Indramayu, mengaku terus mengikuti perkembangan kasus tersebut.
Meski kasusnya membingungkan, namun menurutnya saat ini sudah mulai ada titik terang yang terungkap.
“Memang ada dua versi ya, bingung juga mana yang benar? Ririn dan Priyo benaran membunuh kah? Atau pembunuhnya itu Aman Yani, seperti yang dibilang terdakwa? Tapi sejauh ini menurut saya mulai banyak fakta-fakta baru yang muncul, makin terang lah,” kata Tardiarto saat ditemui di sebuah warung kopi.
Dalam hal ini, Tardiarto berharap agar kasus tersebut bisa semakin terang benderang dan berharap kebenaran bisa segera terungkap.
“Siapapun pelaku sesungguhnya, menurut saya memang layak dijatuhi hukuman paling berat,” ujarnya.






