Kisah Darni Rintis Usaha Asap Gentong di Indramayu, Hingga Bisa Raup Omzet Hingga Rp30 Juta

Kisah Darni merintis Asap Gentong di Indramayu berawal dari kerinduan saat di Beijing. Kini kuliner rumahan itu beromzet hingga Rp30 juta per bulan.

INDRAMAYUUPDATE – Asap tipis mengepul dari sebuah gentong tanah di Desa Rancajawat, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu. Di balik gentong yang diletakkan di atas bara kayu itu, Darni atau yang akrab disapa Mimi Ardi mengolah ayam, bebek hingga ikan menjadi kuliner khas bernama Asap Gentong.

Usaha kuliner rumahan itu ternyata berawal dari kerinduan Darni saat berada di Beijing, Tiongkok.

Darni yang memang memiliki hobi memasak mengaku kerap teringat dengan sajian ayam asap yang pernah dinikmatinya ketika berada di Negeri Tirai Bambu. Sepulang ke Indonesia, ia kemudian mencoba membuat sendiri sajian tersebut.

Namun, mendapatkan rasa yang sesuai dengan keinginannya bukan perkara mudah.

Darni berkali-kali bereksperimen dengan bumbu dan teknik memasak. Ia mencoba berbagai racikan hingga akhirnya menemukan formula yang dianggap paling pas.

“Karena saya suka memasak, saya coba-coba berbagai resep untuk membuat ayam asap,” ujar Darni kepada detikJabar, Jumat (18/9/2026).

Dari berbagai percobaan tersebut, lahirlah metode memasak menggunakan gentong tanah. Ide itu muncul secara tidak sengaja ketika Darni melihat sebuah gentong yang menganggur di sekitar rumah.

Ia kemudian mencoba memanfaatkannya sebagai tempat pengasapan.

“Ayam asap biasanya di tempat yang secara khusus untuk pengasapan gitu, ya. Tapi kalau di sini saya awalnya hanya iseng, enggak sengaja lihat gentong nganggur di rumah akhirnya saya gunakan untuk pengasapan,” katanya.

Daging Diasap dalam Gentong

Proses pembuatan Asap Gentong membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahan yang digunakan cukup beragam, mulai dari ayam kampung, ayam broiler, entok, bebek peking hingga ikan tuna.

Sebelum diasap, bahan tersebut terlebih dahulu dibumbui menggunakan racikan rempah. Daging kemudian didiamkan sekitar satu jam agar bumbu meresap.

Setelah itu, daging kembali disiram dengan kuah rempah sebelum masuk ke proses pengasapan.

Daging kemudian dimasukkan ke dalam gentong yang berada di atas bara kayu. Api dijaga tetap kecil sehingga daging matang secara perlahan.

Proses pengasapan berlangsung sekitar satu jam.

Menurut Darni, metode tersebut membuat daging menjadi empuk dan tetap berair di bagian dalam. Sementara bagian luarnya memiliki tekstur yang sedikit renyah dengan aroma khas asap.

Sejak mulai dijalankan pada 2023, usaha Darni perlahan berkembang. Awalnya, pesanan hanya datang dari keluarga, kerabat dan tetangga.

Promosi melalui media sosial, khususnya Facebook, kemudian membuat produknya semakin dikenal.

Foto-foto olahan Asap Gentong yang dibagikan di media sosial mulai menarik perhatian warga. Pesanan pun berdatangan dari wilayah lain di Indramayu.

Kini, Darni juga memiliki sejumlah reseller yang membantu memasarkan produknya.

“Best seller di sini bebek, kebanyakan pesanan setiap harinya bebek. Kalau untuk makan di tempat tidak ada, hanya take away,” ungkapnya.

Bebek Jadi Menu Favorit

Dari berbagai produk yang dibuat, bebek menjadi menu yang paling banyak dipesan.

Harga produknya disesuaikan dengan berat masing-masing bahan. Untuk bebek ukuran 1,3 kilogram dibanderol Rp130 ribu, sedangkan bebek 1,4 kilogram seharga Rp140 ribu.

Sementara ayam Jawa dengan berat 1 kilogram dijual Rp110 ribu. Adapun ayam broiler dengan berat 1,7 kilogram dibanderol Rp90 ribu.

“Intinya harga tergantung beratnya berapa, dan beratnya beda-beda. Jadinya misal sepuluh bebek, ya, harganya beda-beda,” kata Darni.

Dari usaha yang dijalankan dari rumah tersebut, Darni mengaku bisa mendapatkan omzet hingga sekitar Rp30 juta dalam sebulan.

Bagi Darni, Asap Gentong bukan sekadar usaha kuliner. Ada perjalanan panjang di baliknya, mulai dari kerinduan terhadap makanan yang pernah ia nikmati di Beijing, eksperimen resep, hingga menemukan gentong yang akhirnya menjadi ciri khas produknya.

Dari dapur rumahan di Desa Rancajawat, Darni kini mengembangkan makanan dengan teknik pengasapan yang berbeda. Kerinduan yang dulu muncul ketika berada jauh dari kampung halaman justru berubah menjadi peluang usaha yang terus berkembang di Indramayu.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version