Kasih Sayang Keluarga Jadi Motivasi Gupandi Sembuh Dari ODGJ di Indramayu, Kini Impian Besarnya Ingin Kuliahkan Anak

Kisah Gupandi, warga Indramayu yang bangkit dari gangguan jiwa berkat dukungan keluarga. Kini ia kembali bekerja dan menata hidup.

INDRAMAYUUPDATE – Gupandi (42), warga Desa Pabean Udik, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pernah berada di titik terendah dalam hidupnya. Gangguan kejiwaan membuatnya kehilangan kendali atas diri sendiri hingga berjalan di jalan raya tanpa mengenakan pakaian dan mengamuk kepada orang lain.

Kini, kondisi Gupandi berangsur membaik. Ia masih rutin mengonsumsi obat dan sesekali mengaku mengalami halusinasi, tetapi sudah mampu mengendalikan dirinya.

“Sampai sekarang masih suka ada bisikan-bisikan gitu, halusinasi, tapi saya coba lawan, saya tolak, saya gak mau,” kata Gupandi kepada detikJabar di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Indramayu, Rabu (2/9/2026).

Siang itu, Gupandi datang ke Kantor Dinsos Indramayu bukan untuk menjalani pengobatan. Ia hanya ingin ngopi di kantin sembari berbincang dengan petugas.

Baginya, kantor tersebut sudah seperti rumah kedua. Di tempat itu, Gupandi banyak mendapat arahan dan pendampingan dalam proses pemulihan.

Dengan kaus putih dan celana pendek, Gupandi tampak santai. Ia juga sudah mampu berbaur dan beraktivitas layaknya warga pada umumnya.

Atlet Pencak Silat hingga Sarjana Hukum

Sebelum mengalami gangguan kejiwaan, Gupandi bukanlah sosok yang biasa-biasa saja.

Saat muda, dia merupakan atlet pencak silat berbakat yang beberapa kali mewakili Kabupaten Indramayu dalam berbagai kejuaraan. Secara akademis, Gupandi juga berhasil meraih gelar sarjana hukum.

Namun, hidupnya berubah setelah mengikuti kejuaraan pencak silat tingkat provinsi sekitar 2012.

Saat itu, Gupandi mengaku sudah memenangkan pertandingan pertamanya. Namun, kemenangannya dianulir setelah dirinya didiskualifikasi karena dinilai telah melewati batas usia atlet.

“Sudah menang tapi ditolak kemenangannya. Katanya umurnya ketuaan, sudah melebihi umur atlet, saya didiskualifikasi. Itu pertandingan di provinsi, padahal umur saya itu masih ada satu tahun lagi, masih masuk umurnya,” kenang Gupandi.

Peristiwa tersebut menjadi pukulan berat baginya. Kondisi mental Gupandi kemudian semakin terguncang.

Di sisi lain, dia mengaku sempat menjalani berbagai amalan secara otodidak tanpa arahan guru. Setelah itu, Gupandi mulai mengalami halusinasi dan mendengar bisikan yang mengganggu pikirannya.

Kondisinya semakin memburuk hingga ia tidak lagi mampu mengendalikan perilakunya.

Gupandi mengisahkan, dirinya pernah berjalan di jalan raya tanpa mengenakan pakaian. Ia juga beberapa kali mengamuk dan memukuli orang lain.

Semua perilaku tersebut, kata dia, dilakukan ketika dirinya tidak mampu mengendalikan kesadarannya.

Gangguan tersebut kemudian berdampak besar terhadap kehidupan pribadinya. Rumah tangganya berakhir dengan perceraian.

Kedua anak Gupandi kini tinggal bersama mantan istrinya.

Keluarga Tak Pernah Meninggalkan

Di tengah keterpurukannya, Gupandi masih memiliki satu hal yang membuatnya bertahan: keluarga.

Kakak dan adik-adiknya tidak meninggalkannya. Mereka justru terus mendampingi dan berusaha membawa Gupandi menjalani pengobatan.

Sekitar 2022 menjadi titik balik bagi Gupandi. Keluarga membawanya berobat ke sejumlah rumah sakit hingga mencoba pengobatan alternatif.

Selama menjalani perawatan, Gupandi berusaha membangun sugesti positif untuk dirinya sendiri.

Ia kerap memotret tulisan-tulisan motivasi menggunakan ponselnya. Di antaranya, tulisan seperti ‘jangan dengarkan bisikan’, ‘semangat untuk sembuh’, dan ‘harus rutin minum obat’.

Foto-foto tersebut kemudian disimpan dan dibacanya berulang kali.

Bagi Gupandi, kalimat-kalimat sederhana itu menjadi pengingat agar dirinya terus berjuang.

Perjalanan menuju pulih juga bukan tanpa hambatan. Efek samping obat berupa pusing dan rasa tidak nyaman beberapa kali membuatnya ingin menyerah.

Namun, keinginannya untuk sembuh dan tidak terus membebani keluarga membuat Gupandi bertahan.

Bahkan, kakaknya yang bekerja di luar negeri rutin menelepon untuk memastikan Gupandi tidak lupa meminum obat.

“Iya ditelepon, katanya Gupandi sudah minum obat belum, sudah kata saya. Alhamdulillah dari keluarga sayang banget,” ujarnya.

Menurut Gupandi, mengonsumsi obat memang bukan hal yang mudah karena efeknya membuat tubuh terasa tidak nyaman.

Namun, ia memilih tetap menjalani pengobatan.

“Soalnya memang gak enak obatnya, tapi alhamdulillah saya tetap minum,” katanya.

Kini Bisa Berobat Sendiri dan Kembali Bekerja

Perjuangan panjang Gupandi perlahan menunjukkan hasil.

Kini ia sudah mampu pergi berobat ke rumah sakit secara mandiri tanpa harus selalu didampingi keluarga.

Stigma negatif dari lingkungan sekitar juga perlahan memudar. Gupandi mulai kembali membaur dan menjalani kehidupan sosial seperti warga lainnya.

Ia juga mulai membangun kemandirian ekonomi.

Setiap pagi, Gupandi datang ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong untuk membantu juragan mengangkut hasil tangkapan laut.

Setelah itu, pada siang hingga sore hari, ia membuka jasa cuci motor di depan rumah.

Penghasilan yang diperoleh ditabung sedikit demi sedikit.

Ada satu cita-cita yang ingin diwujudkan Gupandi: menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.

Anak pertamanya kini duduk di kelas 2 SMP, sedangkan anak keduanya berada di kelas 6 SD.

“Nabung sedikit-sedikit dari TPI itu seenggaknya biar punya uang buat kuliah anak nanti. Saya juga pengennya sih nikah lagi biar gak sendirian, pengen memperbaiki diri lah,” tutur Gupandi.

Dinsos: Kasih Sayang Keluarga Jadi Kunci

Penyuluh Sosial Bidang Rehsos Dinsos Indramayu, Karman, mengatakan perjalanan Gupandi memberikan banyak pelajaran.

Menurutnya, pendamping bukan hanya memberikan pendampingan, tetapi juga belajar dari para penyintas gangguan jiwa yang mereka dampingi.

“Walaupun kita itu tugasnya pendampingan, tapi ternyata kita itu tetap belajar. Dari mana? Dari beliau-beliau ini kita belajar,” kata Karman.

Karman menilai penerimaan dan kasih sayang keluarga menjadi salah satu faktor penting dalam proses pemulihan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Menurutnya, keinginan untuk pulih memang harus tumbuh dari dalam diri pasien. Namun, dukungan keluarga dapat menjadi faktor yang memperkuat proses tersebut.

“Itu berpengaruh sekali, untuk kasus Gupandi ini, beliau itu kakak dan adik-adiknya sangat sayang ke dia,” ujarnya.

Meski kondisinya sudah jauh membaik, Karman mengatakan pendampingan dan pengawasan terhadap Gupandi masih diperlukan.

Dinsos Indramayu juga tengah mengajukan bantuan sarana usaha cuci motor bagi Gupandi melalui Sentra Phalamartha Sukabumi, salah satu UPT Kementerian Sosial RI.

“Sudah kami ajukan tapi mungkin memang masih harus menunggu dulu,” kata Karman.

Bagi Gupandi, proses panjang tersebut bukan sekadar tentang sembuh dari gangguan kejiwaan. Ia kini tengah berusaha membangun kembali hidupnya, menjadi mandiri, dan suatu hari bisa mewujudkan impiannya menyekolahkan kedua anaknya hingga perguruan tinggi.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version