INDRAMAYUUPDATE – Penyakit kusta hingga kini masih menjadi persoalan kesehatan di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tak hanya soal pengobatan, stigma sosial terhadap penderita juga menjadi tantangan yang tak kalah berat.
Kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini sebenarnya dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tepat dan penanganan sejak dini.
Melihat persoalan tersebut, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Indramayu bersama Politeknik Negeri Indramayu (Polindra) berkolaborasi menghadirkan inovasi digital untuk membantu mendeteksi kusta sejak dini.
Dengan difasilitasi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), dosen dan mahasiswa dari kedua kampus mengembangkan aplikasi skrining dini kusta bernama Kustara.
Aplikasi tersebut kini mulai diperkenalkan kepada masyarakat dan Pemerintah Desa Rambatan Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu.
Melalui Kustara, kader kesehatan diharapkan dapat melakukan skrining dan mencatat indikasi awal gejala kusta secara lebih terarah. Dengan demikian, warga yang memiliki gejala dapat segera mendapatkan tindak lanjut dari fasilitas kesehatan.
Ketua Tim Pelaksana Program Pengabdian kepada Masyarakat STIKes Indramayu, Wiwin Nur Aeni, mengatakan kasus kusta masih ditemukan di sejumlah wilayah Indramayu.
“Stigma terhadap penderita kusta ini yang menjadi tantangan. Masyarakat perlu mendapatkan edukasi bahwa kusta dapat diobati dan penularannya dapat dicegah melalui deteksi serta pengobatan secara dini,” ujar Wiwin kepada detikcom, Kamis (13/8/2026).
Pengembangan Kustara memadukan keahlian bidang kesehatan dari STIKes Indramayu dengan teknologi informasi dari Polindra.
Perwakilan tim Polindra, Moh Ali Fikri, menjelaskan Kustara dikembangkan menggunakan teknologi Progressive Web App (PWA). Aplikasi tersebut dapat diakses melalui peramban di laman kustara.id dan bisa dipasang langsung pada smartphone.
Kustara dirancang untuk menghubungkan tiga unsur penting di tingkat desa, yakni kader kesehatan, pemerintah desa, dan Puskesmas.
Kader berperan melakukan deteksi dan pencatatan awal di lapangan. Pemerintah desa dapat memantau serta mendukung kebijakan di wilayahnya, sedangkan Puskesmas berperan dalam memberikan tindakan medis dan penanganan lebih lanjut.
“Ketika kader menemukan warga yang memiliki indikasi atau gejala yang mengarah pada kusta, informasi dapat dicatat melalui sistem sehingga pihak terkait dapat mengetahui dan menindaklanjutinya sesuai kewenangan masing-masing,” kata Fikri.
Menurutnya, deteksi dan penanganan sedini mungkin penting untuk menekan risiko penularan sekaligus mencegah kecacatan permanen akibat keterlambatan pengobatan.
Tak hanya menyediakan fitur skrining, Kustara juga dilengkapi dengan materi edukasi mengenai kusta.
Fikri mengatakan teknologi tersebut sengaja dibarengi edukasi agar masyarakat memiliki pemahaman yang benar mengenai penyakit kusta.
“Ini karena masih kuatnya stigma negatif soal penyakit ini. Masih ada masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit yang memalukan sehingga enggan memeriksakan diri ke Puskesmas,” ujarnya.
Data hasil skrining yang masuk ke dalam sistem nantinya juga diharapkan dapat diolah menjadi peta persebaran kasus kusta berbasis wilayah.
Peta tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah dalam menyusun kebijakan kesehatan yang lebih akurat dan tepat sasaran.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari kader kesehatan Desa Rambatan Kulon.
Salah seorang kader, Nina, mengatakan aplikasi Kustara dapat membantu dirinya dan kader lainnya ketika melakukan pemeriksaan di masyarakat.
Menurutnya, stigma masih menjadi salah satu kendala ketika kader melakukan deteksi di lapangan. Sebagian penderita bahkan enggan terbuka mengenai kondisi yang dialaminya.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami. Kami mendapatkan tambahan pengetahuan mengenai kusta untuk kemudian disosialisasikan kepada masyarakat, serta bagaimana kader dapat berperan aktif dalam melakukan deteksi dini dengan lebih akurat,” tutur Nina.
STIKes Indramayu dan Polindra berharap penerapan Kustara di Desa Rambatan Kulon dapat berjalan secara berkelanjutan.
Ke depan, aplikasi tersebut diharapkan tidak hanya digunakan di satu desa, tetapi dapat menjadi model yang bisa diterapkan di desa-desa lain di Kabupaten Indramayu untuk memperkuat deteksi dini sekaligus mengurangi stigma terhadap penderita kusta.
