INDRAMAYUUPDATE – Musim kemarau menjadi periode berat bagi petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Indramayu. Dalam sehari, petugas bahkan bisa menangani hingga 5-7 titik kebakaran.
Kepala Bidang Damkar pada Dinas Satpol PP dan Damkar Indramayu, Jajat Wibisono, mengatakan kondisi tersebut terjadi terutama pada puncak musim kemarau, Juli hingga Agustus 2026.
Banyaknya kejadian membuat personel harus dibagi ke sejumlah lokasi ketika kebakaran terjadi hampir bersamaan. Waktu istirahat pun kerap terpotong karena panggilan tugas kembali masuk.
“Makanya saya sampai kasihan sama anggota. Habis dari satu titik, belum selesai istirahat, sudah ada panggilan lagi. Kebanyakan memang kebakaran lahan dan rumah,” kata Jajat saat ditemui di Mako Damkar Indramayu, Jalan Gatot Subroto, Kamis (10/9/2026).
Berdasarkan data operasional Damkar Indramayu, tercatat 23 laporan kebakaran sepanjang Juli 2026. Angka tersebut meningkat menjadi 28 kejadian pada Agustus.
Padatnya penanganan kebakaran juga membuat armada harus bekerja ekstra. Salah satu mobil pemadam bahkan sempat mengalami kendala mesin setelah digunakan beroperasi tanpa henti.
Petugas Nyaris Tumbang hingga Tangan Robek
Risiko keselamatan juga menjadi bagian dari tugas petugas Damkar. Asap tebal hingga kondisi medan yang tidak terduga menjadi tantangan yang harus dihadapi ketika berada di lokasi kebakaran.
Salah satunya terjadi saat petugas menangani kebakaran kapal di Pelabuhan Karangsong. Seorang anggota Damkar nyaris tumbang karena mengalami sesak napas akibat menghirup asap pekat.
Insiden lainnya terjadi saat penanganan kebakaran di wilayah Patrol. Seorang petugas terpeleset ketika menahan tekanan selang pemadam yang cukup kuat.
Petugas tersebut secara refleks berusaha menahan tubuh dengan menarik dahan kering. Namun, ujung dahan justru melukai tangannya.
“Dia narik dahan kering, akhirnya tangannya robek terkena ujung dahan. Sempat dibawa ke rumah sakit untuk dijahit, untungnya tidak kenapa-napa,” ungkap Jajat.
Jajat Tak Mau Hanya Duduk di Balik Meja
Di tengah tingginya intensitas kebakaran, Jajat memilih turun langsung mendampingi anggotanya. Tak peduli kejadian berlangsung siang hari, dini hari maupun saat dirinya sedang libur.
Menurut Jajat, kehadirannya di lapangan merupakan bentuk tanggung jawab sebagai pimpinan. Dia tak ingin hanya memberikan instruksi dari balik meja sementara anggotanya menghadapi risiko di lapangan.
“Saya bilang ke anggota, sampeyan ke lapangan, saya juga ke lapangan. Sampeyan basah, saya juga basah. Anggota masuk comberan, saya juga sama pernah keblosok masuk ke comberan sampai basah semua. Di lapangan kita tidak ada sekat, tidak ada jabatan Kabid, semua adalah partner kerja. Ini demi pelayanan untuk masyarakat,” ujarnya.
Bahkan, Jajat beberapa kali memilih menginap di Mako Damkar setelah menangani kebakaran. Hal itu dilakukan karena dirinya merasa tidak tega jika pulang dan beristirahat sementara anggotanya masih harus bersiaga.
“Kalau saya berpikirnya begini mas. Masa saya tidur nyenyak di rumah, tapi anggota harus ke sana ke sini kurang istirahat, misalkan ada apa-apa gitu, saya merasa gak enak sendiri, enggak tega. Makanya saya juga ikut dampingin terus. Kadang nginep, kadang pulang jam 3 malam habis nanganin kebakaran, paginya sudah berangkat lagi,” tuturnya.
Kesibukan tersebut membuat waktu Jajat bersama keluarga ikut berkurang. Namun, dia menyebut keluarganya tetap memberikan dukungan.
‘Panggilan Jiwa’ Petugas Damkar
Jajat mengaku bangga melihat semangat para anggotanya. Meski harus menghadapi laporan kebakaran secara beruntun, para petugas disebutnya tetap menjalankan tugas tanpa banyak mengeluh.
“Mereka gak ada capeknya, mungkin sudah panggilan jiwanya seperti itu. Alhamdulillah juga walau banyak kejadian, tapi gak ada yang mengeluh. Mungkin karena saya juga ikut ke lapangan ya, jadi mereka merasa tidak ada beban, pimpinannya saja ke lapangan masa mereka mau santai-santai,” katanya.
Dia pun selalu mengingatkan personelnya untuk tidak menyerah memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Bagi Jajat, pekerjaan sebagai petugas pemadam bukan sekadar menjalankan kewajiban sebagai aparatur. Ada misi sosial yang harus dijalankan ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
“Ini adalah tugas sosial, tabungan akhirat kami,” ucapnya.
Damkar Indramayu Hanya Punya 3 Pos
Di balik tuntutan untuk bergerak cepat, Damkar Indramayu masih menghadapi keterbatasan jangkauan pelayanan.
Saat ini hanya terdapat tiga pos pemadam, yakni Mako Damkar di pusat Kabupaten Indramayu, serta pos di Kecamatan Patrol dan Jatibarang.
Ketiga pos tersebut harus menjangkau 31 kecamatan di Kabupaten Indramayu.
Kondisi itu membuat waktu tempuh menuju lokasi kebakaran menjadi salah satu tantangan. Petugas juga kerap menghadapi kemacetan serta pengguna jalan yang belum memberikan ruang kepada armada Damkar meski sirine sudah dibunyikan.
“Kadang jalanan macet, banyak kendaraan tidak mau menepi meski sirine sudah menyala. Kita coba beri penjelasan ke masyarakat, kendala kita begini-begini, alhamdulillah setelah dijelaskan dari mereka juga akhirnya paham,” jelas Jajat.
Dalam beberapa kejadian, petugas bahkan sempat mendapat protes dari warga karena dianggap terlambat tiba di lokasi.
Jajat mengatakan kondisi tersebut perlu dipahami karena luas wilayah Indramayu cukup besar, sementara jumlah pos pemadam masih terbatas.
112 Kebakaran Terjadi hingga September
Berdasarkan data Damkar Indramayu, sebanyak 112 kejadian kebakaran tercatat sejak Januari hingga 6 September 2026.
Kebakaran rumah tinggal menjadi kejadian yang paling banyak dengan 43 kasus, disusul kebakaran lahan sebanyak 26 kasus dan gudang sebanyak 8 kasus.
Dari 52 kejadian, total kerugian materiil ditaksir mencapai Rp 4.554.800.000.
Sementara itu, terdapat satu korban mengalami luka berat dan lima orang mengalami luka ringan.
Jajat mengatakan sebagian kebakaran dipicu hal-hal yang sebenarnya dapat dicegah. Di antaranya pembakaran sampah yang tidak diawasi hingga membuang puntung rokok sembarangan.
Karena itu, Damkar Indramayu juga terus melakukan edukasi ke masyarakat dan desa-desa untuk meningkatkan kesadaran mengenai pencegahan kebakaran.
“Makanya kita juga upayakan dengan melakukan edukasi ke desa-desa agar mereka teredukasi tidak melakukan hal-hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran dan bagaimana cara menanggulanginya,” pungkas Jajat.
Bagi Jajat dan para petugas Damkar Indramayu, setiap alarm kebakaran adalah panggilan untuk segera bergerak. Di tengah musim kemarau dan tingginya risiko kebakaran, mereka dituntut tetap siaga demi menyelamatkan masyarakat dan harta benda yang terancam api.
